Refresher Gathering Lokakarya Komunikasi Knowledge Sector Initiative

Refresher Gathering Lokakarya Komunikasi Knowledge Sector Initiative

  Setahun berlalu dengan empat lokakarya yang sudah dilaksanakan, Knowledge Sector Initiative (KSI) ingin membuat ikatan lebih kuat dengan para mitra khususnya terkait penulisan populer. Untuk itu diadakan Refresher Gathering Lokakarya Komunikasi KSI dengan tema; “Menumbuhkan Jejaring untuk Berbagi Pengetahuan” diadakan di Hotel Morissey, Jakarta, 1 April 2015. Mira Renata dari KSI pada pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan apresiasi bagi seluruh mitra khususnya bagi yang telah berhasil mewujudkannya dalam tulisan yang dipublikasikan. Namun, juga sebagai “kompor” bagi yang belum mewujudkannya.

Pembicara kunci pada pertemuan hari ini menghadirkan salah satu “legenda” dibilang jurnalistik, Daniel Dhakidae. Pada Pemaparannya di awal, Daniel menyampaikan tentang pemahaman bahasa peneliti dan jurnalis punya perbedaan yang mencolok. Padahal peneliti harus menerjemahkan bahasa penelitian ke dalam bahasa jurnalistik yang dipahami oleh masyarakat awam. Pada dasarnya peneliti harus memiliki kemampuan translasi tersebut agar tulisannya tidak berlalu begitu saja karena sulit dipahami sasarannya.

Daniel menyampaikan teori Habermas’s Three Knowledge-Contitutive Interest sebagai salah satu dasar yang berguna dalam proses translasi tersebut. Habermas membedakan beberapa kepentingan dalam dunia penelitian menjadi tiga bagian, Technical Interest, Practical Interest, dan Emancipatory Interest. Ketiga pembagian tersebut memiliki caranya masing-masing dalam mepengaruhi kebijakan.

Daniel Dhakidae salahsatu Pendiri Litbang Kompas sedang menyampaikan materinya (photo by Wisnu Firmansyah, S.IP)Sesi berikutnya, Tempo Institute sebagai fasilitator mengajak seluruh peserta untuk membahas tulisan yang sudah terbit dari proses penulisan hingga teknis. Sehingga selain ada apresiasi juga ada proses berbagi ilmu di dalamnya dari pelaku langsung.

Menjadi poin penting dalam diskusi kali ini terkait penulisan adalah bagaimana ide menjadi yang utama diperhatikan. Peneliti pada khususnya harus paham betul bagaimana mengubah bahasa penelitiannya menjadi bahasa jurnalis yang lebih mudah dipahami oleh orang lain. Tentunya dengan mempertahankan pesan yang ingin disampaikan. Banyak peneliti yang kemudian khawatir akan tulisannya yang dipublikasi dimedia akan menjadi bias atau tidak sesuai. Oleh karena itu, solusinya adalah peneliti itu sendiri yang harus menulisnya. Mardiyah Chamim dari Tempo Institute pun menambahkan, “Sayang sekali jika suatu lembaga hanya berkomunikasi secara vertikal, karena masyarakat akan sangat dirugikan.” Oleh karena itu, peneliti tidak perlu takut untuk mempublikasikan hasil penelitiannya melalui media jurnalistik. Karena Masyarakat pasti diuntungkan untuk itu.

Beberapa anggota dari mitra KSI yang tuiisannya telah terbit di media mendapat penghargaan dari KSI dan Tempo Institute dalam beberapa kategori.

  1. Tulisan dengan Evidence Base paling kuat: Natasya Sitorus, dari PPH Atma Jaya Jakarta dengan judul “Diskriminasi terhadap Anak dengan HIV”,
  2. Tulisan yang Paling Mencerahkan: Natasya Sitorus, PPH Atma Jaya Jakarta dengan judul “Catatan Hari Anak Nasional”,
  3. Tulisan yang Paling Provokatif: Ali Nur Sahid, PUSAD Paramadina, dengan judul “Mengadili Keyakinan”,
  4. Tulisan dengan Teknik Paling Rapi: Surya Saluang, Sayogjo Institute dengan judul “Tobegu dan Sepatu Baru, Sebuah Kisah Rayuan Tambang”,
  5. Tulisan Opini paling Menarik: Ali Nur Sahid, PUSAD Paramadina, dengan judul “Mengadili Keyakinan”,
  6. Tulisan Feature paling Menarik: Surya Saluang, Sajogyo Institute dengan judul “Tobegu dan Sepatu Baru, Sebuah Kisah Rayuan Tambang”,
  7. Tulisan Rilis paling Efektif: Adiani Viviana, Elsam dengan judul “Bupati Ciamis Memperuncing Konflik Agama di Ciamis”,

Special Award diberikan kepada PUSAD Paramadina sebagai lembaga dengan tingkat produktifitas rilis tulisan paling tinggi. Hal ini bisa menjadi tantangan juga bagi lembaga mitra KSI lainnya untuk lebih produktif.

Sesi terakhir tentunya penutup dari kegiatan hari ini. Pada sesi perpisahan ini, menjadi peresmian berakhirnya lokakarya komunikasi dari KSI yang bekerjasama dengan Tempo Institute. Namun tidak sampai disini saja, KSI bersama Tempo Institute meluncurkan forum diskusi online untuk melanjutkan jalinan komunikasi antar peserta dari seluruh mitra KSI untuk berdiskusi dan sebagainya.

Dengan Peluncuran forum ini diharapkan bahwa segalanya tidak benar-benar berakhir. Justru menjadi semangat baru untuk KSI, Tempo Institute, peserta pada khususnya, dan lembaga-lembaga mitra KSI pada umumnya untuk tetap menulis. Untuk terus belajar bersama, berkembang bersama, dan maju bersama. (Wisnu Firmansyah, S.IP)