Ruang Lingkup Kegiatan

20141202_163956_resizedSesuai tujuannya, ruang lingkup kegiatan PPH Unika Atma Jaya mencakup tiga kegiatan besar yaitu (1) penelitian, (2) peningkatan kapasitas, dan (3) penyediaan layanan bagi kelompok masyarakat yang tidak diuntungkan.

Ketiga kegiatan besar ini didukung sistem manajemen pengetahuan yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak berkepentingan untuk pengembangan kebijakan HIV dan AIDS selanjutnya yang lebih baik.

1. Penelitian

Penelitian yang telah dan sedang dilaksanakan berfokus pada penelitian kebijakan, penelitian operasional/implementasi dan penelitian sosial-perilaku yang terkait HIV-AIDS dan TB, narkoba, kekerasan terhadap perempuan dan kelompok marginal, manajemen pelayanan kesehatan, peran organisasi masyarakat sipil dalam sektor kesehatan dan sistem  kesehatan.

Pemilihan topik ini didasarkan atas kebutuhan pengembangan agenda advokasi PPH Unika Atma Jaya maupun kebutuhan pihak ketiga sehingga memungkinkan adanya penelitian mandiri, penelitian kolaboratif dan commissioned research.

2. Pengembangan Kapasitas

Kegiatan ini ditujukan bagi peneliti dan penggiat HIV-AIDS dalam meningkatkan kemampuan mereka terkait topik yang relevan dengan bidang kerjanya. Kegiatan dilakukan dengan cara bervariasi seperti diskusi, pelatihan, lokakarya, kursus online, bantuan teknis atau mentoring, sesuai kebutuhan.

3. Penyediaan layanan bagi kelompok masyarakat yang tidak diuntungkan

Sebagai bentuk pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang tidak diuntungkan, PPH Unika Atma Jaya melakukan berbagai inisiatif kegiatan pelayanan dan penguatan bagi masyarakat yang terdampak HIV AIDS.

Layanan ini secara khusus berupa pengembangan intervensi penanggulangan HIV bagi pengguna narkoba suntik dan bagi anak-anak yang hidup dengan HIV, melalui dua program yaitu Lentera Anak Pelangi dan Kios Informasi Kesehatan Atma Jaya. Gambaran kedua program adalah sebagai berikut:

a. Lentera Anak Pelangi

Lentera Anak Pelangi adalah program pengurangan dampak buruk HIV AIDS pada anak yang dilahirkan dari orangtua ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) di DKI Jakarta. Program ini bertujuan  meningkatkan kualitas hidup anak yang terlahir dengan HIV dan keluarganya. Ada empat intervensi utama, yaitu (1) intervensi kesehatan dasar dan gizi, (2) psikososial dan pendidikan life skill, (3) advokasi, dan (4) manajemen kasus.

Pengurangan dampak buruk tidak hanya ditujukan kepada anak dan orangtua tetapi juga kepada lingkungan tempat anak, orangtua, dan keluarga berada, termasuk sekolah, lingkungan rumah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hingga Juni 2015, Lentera Anak Pelangi telah mendampingi 122 anak, 80 di antaranya terinfeksi HIV, di lima wilayah DKI Jakarta. Pendanaan kegiatan ini didukung oleh Yayasan Mitra Surya Mandiri, Rotary Club,  Werkgroup 72 dan donor pribadi.

Kegiatan yang telah dilakukan antara lain:

  1. Pendampingan lapangan secara bagi anak dan keluarga yang terdampak oleh HIV.
  2. Pertemuan rutin Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
  3. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis secara rutin bagi anak dan keluarga
  4. Penulisan Surat Terbuka untuk Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan dalam rangka Hari Pendikan Nasional ( 2015).
  5. Workshop Gizi Anak HIV untuk 50 pelaku rawat anak dampingan (2015).
  6. Pasar Murah 2015 untuk keluarga dampingan (2015).
  7. Workshop Melukis Pelangi untuk 18 Anak Hebat usia 10 tahun ke atas di Mega Mendung (2015).
  8. Partisipasi dalam Peringatan Hari Anak Nasional 2015 bersama lebih dari 20 lembaga peduli anak (2015).


b. Kios Informasi Kesehatan

Kios Informasi Kesehatan (KIOS) didirikan pada  2002 sebagai respons atas meningkatnya prevalensi HIV pada kalangan pengguna narkoba suntik di Jakarta. Intervensi yang dikembangkan merupakan pengurangan dampak buruk resiko (harm reduction) bagi  pengguna narkoba suntik (penasun), pasangan seksual penasun dan masyarakat di Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Kegiatan penjangkauan meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kota Tangerang dengan kegiatan utama berupa kegiatan outreach, Layanan Alat Suntik Steril (LASS), rujukan ke terapi rumatan metadon dan layanan kesehatan dasar, tes HIV, tes infeksi menular seksual, dan rujukan perawatan dan pengobatan (linkage to care).

Hingga kini sudah lebih dari 5000 penasun yang memanfaatkan intervensi layanan KIOS. Kegiatan KIOS selama ini adalah:

  • Membuka akses dan melakukan pendampingan kepada penasun dan pasangan seksualnya agar terjadi perubahan perilaku dan peningkatan upaya memperoleh layanan kesehatan. Kegiatan ini didukung oleh USAID melalui Program Aksi Stop AIDS Family Health International (ASA FHI) dan Scaling Up for Most at Risk Populations (SUM) II, dan oleh DFAT melalui HIV Cooperation Program in Indonesia (HCPI)
  • Penyediaan dukungan perawatan dan pengobatan bagi orang dengan HIV melalui pengembangan satelit ARV. Kegiatan ini didukung Indonesia Partnership Fund (KPA Nasional).

c. Yes, I Can!

 

“Yes, I Can!” adalah suatu proyek yang dilaksanakan oleh konsorsium yang melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Atma Jaya, OPSI – Organisasi Perubahan Sosial Indonesia; Sanggar SWARA – Asosiasi Transgender Muda; dan eRKA atau Yayasan Rumah Kita – organisasi berbasis masyarakat yang menangani anak-anak terpinggirkan. “Yes, I Can!” bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok marginal dengan cara meningkatkan akses mereka terhadap layanan dasar dan memperbaiki status ekonomi dan sosial kelompok sasaran proyek ini. Dalam kaitan dengan tujuan tersebut proyek ini menawarkan inovasi dengan tidak hanya memberdayakan kelompok sasaran, tetapi juga dengan melakukan advokasi pada pihak pemerintah, swasta, maupun masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.