Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Oleh Frisca Melissa Iskandar T.

Selama tiga hari saya mengikuti kursus Harm Reduction sebagai pembekalan dan prasyarat untuk dapat masuk ke Semester-3 Magister Profesi Psikologi Klinis, yang dimana pada periode tersebut saya akan terpapar pada kasus-kasus, salah satunya yang terkait dengan Napza/ penasun/ HIV-AIDS. Walaupun waktu kursus yang diberikan relatif singkat, namun materi yang diberikan cukup intens dan padat. Oleh karena itu, setelah mengikuti kursus Harm Reduction saya mendapatkan beberapa manfaat yang dapat berguna bagi saya sebagai calon Psikolog Klinis. Manfaat-manfaat tersebut meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan personalinsight.

Pada aspek pengetahuan, poin-poin penting yang saya dapatkan adalah :

  • Harm Reduction merupakan tindakan pengurangan risiko bagi para penasun, dengan mensosialisasikan dan membagikan jarum suntik steril gratis bagi para penasun aktif. Tujuan dari tindakan ini adalah agar kesehatan para penasun, serta orang di sekitarnya, menjadi lebih aman dan terhindar dari HIV-AIDS (akibat penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian)
  • Di Indonesia sendiri secara khusus, diperlukan adanya kebijakan mengenai Napza/ penasun/ ODHA yang lebih manusiawi dan bijaksana untuk mengatur dan menindaklanjuti penyalahgunaan Napza. Sampai pada saat ini, kebijakan yang ada cenderung masih sangat kaku (hitam-putih), serta kurang ‘pengertian’ dan manusiawi. Penindaklanjutan yang ada terhadap para penasun kebanyakan serta-merta langsung menjebloskan mereka ke dalam penjara, tanpa memikirkan aspek-aspek lain yang terkait yang juga terkena dampaknya
  • Masih banyak penasun yang ternyata masih sangat minim informasi mengenai efek/ dampak/ bahaya/ risiko dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, sehingga menjadi kurang hati-hati dan bertanggung jawab di dalam menggunakan jarum suntik
  • Semakin banyak obat-obatan/ zat-zat baru yang muncul di dunia dan juga di Indonesia, maka kewaspadaan, wawasan, dan kepedulian akan hal ini harus ditingkatkan
  • Sudah ada kepeduliaan dari LSM dan lembaga/ institusi lainnya terhadap penyalahgunaan Napza, dengan adanya : program-program terkait, fasilitas, dan sebagainya
  • Khususnya sebagai calon Psikolog Klinis, mengetahui bentuk intervensi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Behavioral Drug and Risk Reduction Counseling (BDRRC)

Pada aspek keterampilan saya juga ditunjang oleh kursus ini, sebab selain mendapatkan teori diberikan juga kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengan para penasun. Selama kursus sempat didatangkan ke kampus dua orang penasun untuk menceritakan pengalamannya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis terkait penyalahgunaan Napza yang pernah dilalui oleh mereka. Selain itu juga ada kunjungan lapangan ke salah satu LSM terkait, yaitu ke KIOS Atma Jaya. Dengan adanya pengalaman tersebut, saya menjadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang-orang penasun. Dari para penasun pun saya mendapatkan kosa kata yang baru bagi saya, yaitu istilah-istilah yang lazim dan sering digunakan oleh para penasun untuk berkomunikasi satu sama lain, sehingga nantinya saat harus menangani kasus nyata lainnya terkait Napza/ penasun/ ODHA saya seharusnya sudah lebih bisa memahami dan ‘nyambung’ dengan klien saya.

Perubahan sikap juga saya dapatkan setelah mengetahui lebih banyak  mengenai penyalahgunaan Napza dan Harm Reduction. Dulu, jujur saja saya kurang peduli dengan hal-hal tersebut. Saya merasa bahwa hal-hal tersebut terlalu ‘jauh’ (bukan lingkungan sehari-hari saya), tidak ada hubungannya dengan saya, dan bukan urusan saya. Namun setelah mengikuti kursus ini mata hati saya terbuka, saya menyadari bahwa Napza/ penasun/ HIV-AIDS tidak mengenal usia, latar belakang, tempat, dan waktu. Tidak tertutup kemungkinan bahwa orang-orang di sekitar saya, yang sering bergaul dengan saya, juga calon klien saya nantinya adalah orang-orang yang bergelut dengan masalah ini. Oleh sebab itu, mulai dari sekarang saya harus lebih terbuka dan peduli terhadap masalah terkait penyalahgunaan Napza/ penasun/ HIV-AIDS.

Personal-insight yang saya dapatkan dari kursus ini adalah bahwa dengan segala pengetahuan dan bekal yang sudah/akan saya miliki, sebagai calon Psikolog Klinis saya harus berkontribusi membantu para penyalahguna Napza/ penasun/ ODHA dalam memberikan pemahaman/pengertian mengenai apa yang mereka lakukan dan alami, serta membantu dan mendampingi mereka yang ingin pulih (khususnya dari sisi psikis/mental) selama proses pemulihannya. Karena untuk dapat pulih ataupun berhenti dari hal ini bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan bukan hanya keinginan yang kuat dari dalam diri sendiri, namun juga dukungan yang kuat juga serta konsisten dari lingkungan sosial di sekitarnya.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan