Strategi Test and Treat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

Strategi Test and Treat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS

Saat ini sedang banyak dibicarakan oleh para pakar, peneliti, pemegang kebijakan, penyedia layanan dan pemanfaat layanan khususnya populasi yang terdampak oleh HIV dan AIDS mengenai inisiasi dini terapi antiretroviral (ARV) untuk pencegahan dan pengobatan. Program ini sering disebut SUFA (Strategic Use of Antiretroviral) ataupun juga TasP (Treatment as Prevention).

Berkaitan dengan masih adanya perdebatan tentang efektivitas strategi test dan treat ini, Pusat Penelitian HIV dan AIDS (PPH), Universitas Katolik Atma Jaya mengadakan acara Lecture Series di @america Pasific Place Jakarta. Pada 28 Oktober 2014 dengan narasumber; dr. Siti Nadia – Subdit AIDS Kementerian Kesehatan RI, dr. M. Karyana, M.Kes. Ketua INA-RESPOND – Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI, Irawati – Divisi Penelitian Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dr. Budiarto – HIV treatment specialist Deputy country director Clinton Health Access Initiative (CHAI), dr. Inda Mutiara – Pengelola Program HIV dan AIDS Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dr. Arum Ambarsari Puskesmas Kalideres, Jakarta Barat. Hari Prabowo – Yayasan Inter Medika

Untuk mengetahui berbagai permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dalam implementasi strategi ini baik dari sisi kebijakan, penyediaan layanan dan pemanfaatannya dalam konteks populasi umum atau populasi tertentu. Maka dilakukan penelitian pelaksanaan uji coba program SUFA di 13 kabupaten/kota; Medan, Jakarta Barat, Bandung, Surakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Badung, Manado, Makasar, Sorong, Jayapura, dan Jayawijaya.

Inisiasi dini terapi antiretroviral (SUFA) adalah salah satu upaya pengobatan dini yang dilakukan tanpa melihat kondisi CD4 seseorang. Begitu seseorang terinfeksi HIV langsung diberikan ARV. Biasanya, orang yang terinfeksi HIV baru diberikan obat ARV pada saat CD4 dibawah 350. CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. CD4 berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh virus HIV.

Para NarasumberMenurut dr Budiarto, “Semua hal tersebut berkaitan dengan jumlah virus dalam darah yang berarti. Jadi bila dapat ditemukan seawal mungkin dimana jumlah virus masih rendah maka sebaiknya diobati seawal mungkin untuk menurunkan virus sampai kadar tidak terdeteksi”

Perlu diketahui SUFA bukanlah program baru melainkan lanjutan dari layanan terapi ARV yang sudah berjalan di Indonesia, sekarang ditambah dengan beberapa komponen baru dalam layanan, seperti layanan untuk pasangan yang salah satunya terinfeksi HIV (sero-discordant)

Dr. Arum Ambarsari mengatakan ”Pendekatan SUFA berhasil meningkatkan jumlah klien HIV+ yang mengakses layanan ART di Puskesmas Kalideres dari 72,7% ditahun 2012 menjdi 87,5% di tahun 2014. Sehingga layanan perlu untuk terus ditingkatkan untuk pelayanan kesehatan bagi Orang Dengan HIV & AIDS (ODHA) secara kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan potensi yang ada”

Diharapkan pada Lecture Series kali ini dapat memberikan pemahaman kepada yang hadir tentang konsep dan strategi Test dan Treat dalam penanggulangan HIV dan AIDS serta menyediakan informasi tentang perkembangan penelitian atau uji coba Test dan Treat di Indonesia dan mengidentifikasi berbagai potensi hambatan dan tantangan penerapan strategi Test dan Treat di masa mendatang baik bagi populasi umum maupun populasi tertentu.