Penentuan Agenda Prioritas Riset HIV-AIDS 2020-2024 di Indonesia

Penentuan agenda riset kebijakan merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh sejumlah narasumber untuk menentukan dan memutuskan prioritas mana yang paling penting untuk diutamakan dalam sebuah penelitian. PPH Unika Atma Jaya melakukan inisiasi awal kegiatan ini dengan tujuan untuk mengembangkan peringkat berdasarkan kesepakatan akan kebutuhan penelitian yang diprioritaskan terkait dengan isu HIV dan AIDS di Indonesia. Tingkat penentuan agenda riset ditetapkan dalam tingkat makro, yaitu agenda riset HIV-AIDS yang masih bersifat luas dan umum. read more

Lecture Series Partisipasi Remaja yang Bermakna dalam Program Kesehatan Reproduksi

Menurut WHO, remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi Antara masa kanak-kanak dan dewasa, dengan batasan usia 12-24 tahun. Pada masa remaja seseorang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat baik fisik, psikologis maupun intelektual, hal ini menyebabkan remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar, menyukai tantangan serta cenderung berani mengambil risiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang. Risiko untuk terjerumus pada perilaku berisiko menjadi lebih besar ketika keputusan yang diambil tidak tepat, bahkan mungkin akan menanggung akibat dalam bentuk berbagai masalah kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu masalah yang bisa timbul akibat perilaku tersebut adalah masalah kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi sering disalahartikan secara sempit hanya sebagai hubungan seksual saja, sehingga banyak orang tua yang merasa bahwa topik pembicaraan ini tidak pantas untuk dibicarakan dengan remaja. Padahal, kesehatan reproduksi merupakan keadaan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang sangat penting untuk dimengerti oleh remaja, sehingga tidak melulu membahas mengenai hubungan seksual. Oleh karena itu remaja perlu mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi ini.  Pemahaman yang masih rendah mengenai kesehatan reproduksi tentunya akan berdampak pada aktivitas seksual remaja dan risiko-risiko yang menyertainya seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, infeksi menular seksual, dan lain sebagainya. Selain informasi dan pengetahuan yang benar, remaja juga membutuhkan pelayanan kesehatan reproduksi yang dapat memenuhi kebutuhan remaja. Upaya-upaya untuk mengembangkan program-program kesehatan reproduksi bagi remaja telah banyak dilakukan, salah satunya adalah dengan melibatkan remaja itu sendiri dalam pengembangan program. read more

[Friday Coffee Break] Lecture Series Paham dan Peduli HIV: Tes dan Pengobatan HIV

Tes dan Pengobatan HIV merupakan lecture series kedua dari rangkaian 6 lecture series yang direncanakan oleh Pusat Penelitian HIV-AIDS, Unika Atma Jaya bekerja sama dengan program Friday Coffee Break – UNIKA Atma Jaya. Pada lecture series ini dibahas mengenai pentingnya melakukan tes HIV, bagaimana dan dimana melakukan tes HIV serta terapi apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui seseorang terinfeksi HIV. Sesi ini dibawakan oleh dr. Eldaa Prisca Refianti Sutanto yang merupakan salah satu alumni dari Fakultas Kedokteran UNIKA Indonesia Atma Jaya. read more

[Friday Coffee Break] Lecture Series HIV: Penularan dan Pencegahannya

                Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya bekerja sama dengan UNIKA Atma Jaya dalam kegiatan Friday Coffee Break, yaitu Lecture Series yang akan diadakan sebulan sekali setiap hari Jumat di Kampus Atma Jaya Semanggi. Lecture Series X Friday Coffee Break ini merupakan satu rangkaian kegiatan yang terdiri dari 6 Lecture Series.

                Lecture Series pertama, yaitu HIV: Penularan dan Pencegahannya, yang dibawakan oleh dokter Alegra Wolter yang merupakan salah satu alumni dari FK UAJ, dan mengatakan bahwa HIV  tidak dapat menginfeksi orang lain melalui gigitan serangga, berbagi makanan, batuk, bersin, berpelukan, keringat dan lain lain. HIV dapat menginfeksi orang lain melalui hubungan seks bebas, transfusi darah dan penggunaan jarum suntik. read more

Lecture Series “Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci”


Lecture Series yang diadakan pada tanggal 26 Maret 2019 lalu membahas tentang Risiko Penularan HIV pada Pasangan Populasi Kunci yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian HIV/AIDS UAJ, Ibu Evi Sukmaningrum, dan dihadiri oleh 4 pembicara, yaitu Lydia Verina Wongso dari PPH UAJ, Oldri Sherli Manukuan dari UNFPA, Ibu Posma Ida Manulu dari PKVHI, dr. Lanny Luhukay dari Subdit AIDS, Kemenkes RI.

Lydia Verina Wongso (PPH UAJ), memaparkan hasil kajian di 6 kota yang dilakukan oleh PPH Atma Jaya mengenai “Faktor Risiko dan Perlindungan Penularan HIV pada Pasangan Tetap Heteroseksual di Indonesia”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa potensi penularan HIV dari populasi kunci ke pasangan tetap  meningkat, dan faktor-faktor yang meningkatkan potensi penularan HIV antara lain, kekerasan, ketergantungan emosi dan finansial, praktek poligami, perkawinan dini, dan kawin kontrak. Beberapa hambatan layanan yang ditemui dari hasil kajian lapangan ini adalah: enggannya klien menceritakan faktor risikonya ketika menerima konseling di fasilitas layanan kesehatan, tidak dilakukannya Konseling sebelum dan sesudah tes HIV, sulitnya menjangkau pelanggan pekerja seks perempuan sebagai kelompok ‘jembatan penularan HIV’ serta mobilitas Penasun dan WPS yang cukup tinggi. read more

Lecture Series HIV: Infeksi Oportunistik dan Ko-Infeksi

Lecture Series X Friday Coffee Break

Paham dan Peduli HIV/AIDS

HIV: Infeksi Oportunistik & Ko-Infeksi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Seseorang yang telah ditulari virus HIV, lama kelamaan daya tahan tubuhnya akan menurun, terlebih apabila tidak dilakukan pengobatan secara dini. Dengan kekebalan tubuh yang kurang kuat ini, maka orang dengan HIV sering mengalami berbagai Infeksi oportunistik (IO), yaitu infeksi yang sering terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Karena infeksi ini mengambil keuntungan dari sistem kekebalan tubuh seseorang yang lemah tersebut, maka ia dinamakan infeksi oportunistik. Infeksi ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur atau parasit. Infeksi oportunistik yang sering terjadi pada orang dengan HIV adalah candidiasis, infeksi pheumonia, diare, herpes simpleks, toksoplasmosis, dan lain sebagainya. Tentunya bagi orang dengan HIV perlu mengenal berbagai IO yang berkemungkinan menyerang mereka, supaya dapat mencegahnya ataupun apabila terkena IO tersebut dapat segera mencari bantuan untuk pengobatannya. read more

LECTURE SERIES RISIKO PENULARAN HIV PADA PASANGAN POPULASI KUNCI

Jumlah kasus penularan HIV di Indonesia mulai bergeser dari pengguna napza suntik (penasun) ke penularan melalui hubungan seksual yang tidak aman. Data Kementerian Kesehatan (2016) menyatakan penularan HIV melalui hubungan seksual secara heteroseksual mendominasi sekitar 61% dari seluruh kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan akibat dari perilaku seks yang tidak aman terutama ditemukan pada pasangan intim. Risiko penularan HIV pada pasangan intim dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Perilaku penggunaan kondom, relasi gender, perilaku penggunaan alkohol, merupakan beberapa faktor yang termasuk faktor sosial yang berkontribusi pada risiko penularan HIV pada pasangan. Penggunaan napza suntik (penasun) disebutkan sebagai salah satu perilaku yang berkontribusi pada penularan HIV pada pasangan (Sylversten et al, 2013; Nadol et al, 2015; Murthy, 2012; Gilbert 2010). Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada tingginya penularan HIV pada pasangan intim di kelompok penasun, seperti penggunaan kondom yang rendah (El Bassel et al, 2014; Chakrapani, 2012) dan pasangan penasun yang tidak mengetahui status HIV pasangannya (Manaf et al, 2013).

Disamping faktor sosial di atas, kerentanan ekonomi juga dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya penularan HIV pada pasangan (Benoit, 2013; Syversten et al, 2013; Montgomery, 2012; Li et al, 2014). Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap penularan HIV pada pasangan adalah ketidaktahuan pasangan akan status HIV pasangannya. Menurut Mucheke (2016), orang yang tidak memperdulikan status HIV pribadi dan pasangannya juga berpotensi untuk tertular HIV. Tidak mengungkapkan status HIV dapat terjadi Karena merasa takut mengetahui hasil kesehatan dan merasa bersalah terhadap pasangan (Cameron, 2012; Mucheke, 2016). Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa faktor risiko seperti perilaku penggunaan napza suntik, penggunaan kondom yang rendah, kekerasan dan ketidakpedulian terhadap status HIV turut berkontribusi terhadap prevalensi penularan HIV pada pasangan intim.

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk melindungi pasangan dari HIV. Menurut Makwe dan Giwa-Osagie (2013) tes HIV berpasangan, sunat pada lelaki dan penggunaan kondom dinilai dapat melindungi pasangan dari penularan HIV. Selain itu, pasangan yang memiliki tingkat hubungan yang kuat dan komunikasi yang baik cenderung untuk melakukan seks dengan aman (Palinkas, 2014; Pettifor, 2014). Berbagai intervensi pun sudah dirancang untuk mengurangi risiko penularan HIV pada pasangan. Program tes HIV bersama pasangan (couple-based testing) juga dapat dilakukan sebagai bagian dari intervensi HIV pada pasangan (Spino et al, 2010). Menurut El-Bassel dan rekan (2012), program tes HIV berpasangan yang mempertimbangkan faktor kontekstual budaya dan sekaligus dilakukan bersama dengan materi pengurangan risiko dampak

buruk napza dapat berkontribusi pada menurunnya penularan HIV, meningkatkan penggunaan kondom secara aman dan mengurangi kekerasan berbasis gender pada kelompok penasun dan pasangannya. Becker dan rekan (2014) menambahkan konseling HIV yang ditambahkan dengan konseling kontrasepsi berhasil meningkatkan penggunaan kondom sebanyak 61%. Walaupun demikian, terdapat beberapa pertimbangan yang harus dicermati dalam melaksanakan tes HIV berbasis pasangan.

Untuk melihat pemanfaatan berbagai intervensi pada pasangan tetap populasi kunci yang telah dilakukan di Indonesia dan bagaimana program-program intervensi tersebut dapat mendukung pengurangan risiko penularan HIV pada pasangan populasi kunci, maka Pusat Penelitian HIV-AIDS (PPH) UNIKA Atma Jaya akan mengadakan lecture series yang akan mengupas permasalahan seputar intervensi pada pasangan tetap tersebut.

TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemaparan mengenai strategi dan intervensi-intervensi yang dilakukan untuk perlindungan penularan HIV pada pasangan populasi kunci serta mendiskusikan berbagai permasalahan atau kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya.

 

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa / 26 Maret 2019

Waktu : 12.00 – 16.30

Tempat : Ruang Y.14.07, Gedung Yustinus Lt. 14, Kampus UNIKA Atma jaya Semanggi

Jl. Jend. Sudirman No. 51, Jakarta

 

PESERTA

Sasaran peserta lecture series ini adalah LSM pelaksana program HIV dan Harm Reduction (HR), penyedia layanan HIV dan HR, serta stakeholder yang terkait

 

SUSUNAN KEGIATAN

Waktu Kegiatan

11:45 – 12:00 Pendaftaran Peserta

12:00 – 12:30 Makan siang bersama

12:30 – 13:15 Paparan hasil penelitian PPH: Faktor Risiko dan Perlindungan HIV pada Pasangan Tetap oleh Tim Peneliti PPH

13:15 – 14:00 Strategi Penjangkauan Pasangan Populasi Kunci oleh UNFPA

14:00 – 14:10 Break

14:10 – 15:00 Pelayanan Test HIV bagi Pasangan Populasi Kunci oleh Subdit AIDS, Kemenkes

15:00 – 15:45 Fisibilitas Konseling Berpasangan oleh PKVHI

15:45 – 16:30 Diskusi Tanya jawab

 

LINK PENDAFTARAN :

http://tinyurl.com/LS-PPHUAJ

Jika Anda memiliki pertanyaan, silahkan hubungi:

Sari Lenggogeni | WA: 0812-8961-3557
development-pph@atmajaya.ac.id
atau datang ke PPH di Kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi, Gedung K2, Ruang K21.08

LECTURE SERIES PAHAM DAN PEDULI HIV/AIDS 2019

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Penularan virus HIV dapat terjadi melalui cairan tubuh seperti darah, cairan vagina, sperma, dan ASI, namun tidaklah semudah yang dibayangkan atau mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Ada beberapa persyaratan atau kondisi yang harus dipenuhi  sehingga virus HIV dari seseorang dapat menulari orang lain, yang kita kenal dengan 4 prinsip penularan HIV, yaitu Exit, Survive, Sufficient dan Enter. Harus ada virus HIV yang keluar melalui cairan tubuh penginap HIV yang dapat bertahan hidup sampai virus tersebut masuk ke cairan tubuh orang lain dengan jumlah yang memadai dan masuk ke dalam tubuh seseorang, jika keempat prinsip ini terpenuhi barulah seseorang tersebut berisiko untuk tertular virus HIV.

Banyak sekali mitos-mitos atau berita-berita hoax yang beredar di masyarakat mengenai cara peularan virus HIV ini, seperti HIV menular melalui alat makan, virus HIV dapat ditularkan melalui makanan kaleng yang sudah disuntikkan darah yang mengandung  virus, HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik terinfeksi yang ditancapkan di bangku bioskop, dan banyak lagi berita-berita lain yang membingungkan masyarakat. Walaupun sudah banyak juga bantahan akan ketidakbenaran berita tersebut, namun masih banyak masyarakat yang masih mempercayainya. Pemahaman yang keliru ini dapat memicu stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang dengan HIV dan AIDS. Oleh karena itu, pemberian informasi yang benar mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, disamping dapat membentengi diri dari penularan HIV, juga harapannya dapat stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS di masyarakat secara umum.

TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi yang tepat mengenai HIV dan AIDS kepada audience sebagai bekal untuk mengurangi risiko penularan HIV dan juga secara tidak langsung akan berdampak pada pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

PENDAFTARAN

LECTURE SERIES ini akan diadakan sepanjang tahun 2019 yang terbagi ke dlaam 6 sub-topik, yaitu sebagai berikut:

  1. HIV: Penularan dan Pencegahan | 29 Maret 2019 | 16.00 – 17.30
  2. HIV: Tes dan Pengobatan | 5 April 2019 | 16.00 – 17.30
  3. HIV: Infeksi oportunistik dan ko-infeksi | 3 Mei 2019 | 16.00 – 17.30
  4. HIV: Stigma dan diskriminasi | 28 Juni 2019 | 16.00 – 17.30
  5. HIV dan populasi spesifik | 6 September 2019 | 16.00 – 17.30
  6. Hidup baik dengan HIV/AIDS | 4 Oktober 2019 | 16.00 – 17.30

Pendaftaran dapat dilakukan melalui link berikut:

http://tinyurl.com/LS-PPHUAJ

Jika Anda memiliki pertanyaan, silahkan hubungi: read more

Laporan Penelitian: Faktor-faktor yang Memungkinkan dan Menghambat Akses Layanan Kesehatan, Sosial dan Psikososial bagi Anak dengan HIV di Indonesia

Jumlah anak terinfeksi HIV dan angka kematian terkait HIV pada anak semakin meningkat. Secara global, pada tahun 2013 diestimasikan ada 3.3 juta anak berusia kurang dari 15 tahun di dunia terinfeksi HIV (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Dari jumlah tersebut, sebanyak 240.000 anak (11%) merupakan angka baru infeksi HIV di tahun 2013.

Hampir semua kasus HIV pada anak merupakan hasil penularan virus dari ibu yang positif melalui proses selama kehamilan, melahirkan maupun menyusui. Walaupun program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah mulai dikembangkan di berbagai negara, beberapa penelitian menemukan bahwa angka keberhasilan program tersebut masih cukup rendah (Meyers et al., 2007). Persentase ibu hamil yang melakukan tes HIV di negara miskin dan berkembang diperkirakan baru mencapai (21%) pada tahun 2011 (WHO, UNICEF, UNAIDS, 2013). Hal ini mengakibatkan jumlah anak yang terinfeksi HIV sejak lahir masih cukup tinggi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa inisiasi dini terhadap terapi ARV pada anak dapat mengurangi angka kematian pada anak dengan HIV. Namun, cakupan perawatan ART pada anak terinfeksi HIV masih rendah yaitu sebesar (34%) di tahun 2012 (UNAIDS, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa masih minimnya keberhasilan pendidikan dan dukungan bagi ibu terinfeksi HIV serta masih lemahnya layanan diagnosis HIV pediatrik.

Sementara itu dari sisi perawatan HIV dan AIDS, Kementerian Kesehatan pada bulan September 2014 melaporkan bahwa sebanyak 6101 anak yang dilaporkan pernah masuk perawatan, 4189 diantara memenuhi syarat untuk memperoleh ARV dan hanya 3316 anak yang pernah memperoleh ARV. Sayangnya laporan ini tidak menyebutkan berapa banyak anak yang masih dalam perawatan. Cascade perawatan HIV pada anak tersebut menyiratkan bahwa ada berbagai macam faktor yang menghambat anak untuk memperoleh akses perawatan HIV secara paripurna sehingga perlu digali berbagai faktor penyebabnya tersebut agar bisa dikembangkan strategi untuk mengurangi mortalitas pada anak dan sekaligus untuk meningkatkan kualitas hidup anak.

Penelitian tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aksesibilitas perawatan HIV pada anak dan identifikasi program layanan untuk anak dengan HIV yang tersedia di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian oleh Spiritia (2015) merupakan satu-satunya penelitian yang memetakan berbagai bentuk layanan bagi anak dengan HIV di berbagai kota di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan medik, sosial dan psikososial bagi anak dengan HIV masih sangat terbatas dan belum merata di daerah-daerah. Masih banyak hal yang harus dilakukan dalam program penanggulangan AIDS ke depan untuk memastikan ketersediaan ARV untuk anak, pembiayaan yang standart, meningkatkan pemahaman tentang pengasuh terhadap terapi ARV bagi anak, pemenuhah kebutuhan gizi dan dukungan layanan untuk mitigasi dampak.

Beranjak dari penelitian yang telah dilakukan oleh Spiritia tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mendalami berbagai aspek penyediaan layanan bagi anak dengan HIV dengan memberikan fokus pada berbagai faktor yang menghambat dan faktor yang memungkinkan anak dengan HIV untuk mengakses layanan kesehatan, sosial, psikososial dan pembiayaan kesehatan yang tersedia.

Laporan penelitian ini bebas untuk diunduh melalui tautan berikut ini:

“Kak, Kondom Itu untuk Apa?”

Oleh: Ilona Gok Dame, Ketua Tim Peduli AIDS Atma Jaya

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Tim Peduli AIDS Atma Jaya atau dikenal dengan sebutan TPA, merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang sosial, secara khusus mengenai isu HIV-AIDS. TPA melakukan banyak program dan kegiatan setiap tahunnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan TPA adalah penyuluhan dan kampanye pada bulan Desember 2017 yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Kampanye dilakukan secara langsung di Kampus Atma Jaya Semanggi dan BSD serta secara digital di media sosial instagram.

Di Kampus Atma Jaya, kami membagikan pamflet kepada warga Atma Jaya yang berisi tentang tindakan diskriminasi dan stigma yang diterima oleh populasi kunci. Tidak hanya itu, kami juga membagikan penjelasan singkat kepada mereka tentang isi pamflet tersebut. Sedangkan dalam kampanye digital di media sosial, kami membuat twibbon dan caption bertemakan Take Action, No Discrimination. Pada caption, kami menjelaskan sedikit stigma dan diskriminasi yang diterima ODHA, kemudian tindakan non diskriminasi apa yang dapat kita lakukan bersama.

Bentuk kegiatan yang kedua yakni penyuluhan yang dilakukan di salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Kami memberikan penyuluhan ke 6 kelas yang terdiri dari kelas 11 dan kelas 10, dengan durasi penyuluhan di masing-masing kelas 45 menit. Informasi yang diberikan dalam penyuluhan yaitu informasi dasar HIV-AIDS, seperti perbedaan HIV & AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan terapi ARV. Selain itu kami juga menjelaskan stigma dan diskriminasi serta dampaknya terhadap ODHA. Kami merasa penting untuk membagikan informasi-informasi ini kepada siswa SMA karena perilaku seks bebas, angka kehamilan tidak diinginkan, aborsi, pemerkosaan, hingga penularan penyakit seksual banyak terjadi di kalangan remaja. Penyuluhan seperti ini dapat menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan orang lain di sekitarnya, khususnya pada remaja SMA.

Respon para siswa SMA cukup positif terhadap penyuluhan tentang HIV-AIDS ini, terlihat dari sikap mereka yang cukup aktif, dimana di setiap kelas minimal ada 5 orang yang bertanya. Pertanyaan yang diajukan antara lain seperti “Bagaimana caranya agar bayi tidak tertular virus HIV dari ibunya?”, “Apakah darah yang ada di PMI juga ada yang terdapat virus HIV?”, dan “Berapa lama seseorang yang positif HIV bisa hidup apabila melakukan terapi ARV?”. Dan dari seluruh pertanyaan yang diberikan, ada satu pertanyaan yang cukup membuat kami terkejut. Ada satu murid perempuan yang bertanya, “Kak, kondom itu untuk apa ya?”. Seorang anak SMA yang bersekolah di Jakarta Pusat belum tahu guna kondom itu hal yang mengagetkan bagi kami.

Dari kejadian itu membuat kami berpikir bahwa masih ada remaja yang tinggal di Jakarta Pusat yang belum tahu kegunaan kondom, berarti hal ini menunjukkan bahwa edukasi terkait seks masih belum diterapkan secara komprehensif dan menyeluruh. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh budaya kita yang masih menganggap pembicaraan tentang seks adalah hal yang tabu. Hal ini menjadi salah satu tantangan karena anak dapat mencari informasi dari sumber yang salah sehingga anak tidak mendapatkan informasi yang benar untuk dapat menjaga dirinya dan bergaul secara sehat.

Padahal pendidikan seks yang dilakukan sejak dini dapat menekan laju angka pengidap penyakit kelamin, AIDS dan aborsi yang dilakukan kalangan remaja. Bahkan juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Materi seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. Namun, perlu juga disertai dengan penjelasan akibat seks itu sendiri.

Berkaca dari pengalaman ini, kami merasa bahwa pendidikan seks penting disampaikan sejak dini. Dan semua orang memiliki andil untuk menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya, maka kami berkomitmen untuk terus memberikan edukasi melalui berbagai program kerja kami kepada warga Atma Jaya dan masyarakat luas.