Apa itu Harm Reduction?

Apa itu Harm Reduction?

Oleh: Yanuar Wilda

But next time I won’t be so stupid, except there won’t be any next time! I will never ever, ever, under any circumstances use drugs again. They are the root and cause of this whole rotten, stinking mess I am in, and I wish with all my heart and soul that I had never heard of them (Anymous, 2004)

Kalimat tersebut ditulis oleh seorang remaja berusia lima belas tahun (anonim) dalam buku hariannya (diary) ketika menghadapi masalah berat kecanduan Narkoba dan seks bebas. Buku harian tersebut kemudian diterbitkan oleh Simon & Schuster Inc. pada tahun 1998 dengan judul Go Ask Alice. Tulisan tersebut mengingatkan kita betapa peliknya perjuangan sesorang yang ingin keluar dari penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba. Di Indonesia sendiri kasus penggunaan Narkoba cukup memprihatinkan. Sebuah surat kabar menulis bahwa jumlah jumlah pengguna Narkoba atau Narkotika atau Zat adiktif (semua sebutan tersebut merujuk pada hal yang sama) di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang (Rachmawati, 2016) dan 2,8 persen dari total tersebut (sekitar 14 ribu jiwa) merupakan individu dengan rentang usia 12-21 tahun (Indriani, 2016).

Jumlah pengguna yang cukup besar di kalangan usia produktif pada akhirnya akan membawa dampak negatif baik pada individu maupun pada lingkungan terdekat yaitu keluarga dan negara sebagai lingkungan terluar. Keluarga dari junkies (sebutan untuk individu yang menggunakan Narkoba) akan mengalami dampak secara sosial (dikucilkan), psikologi (stress dan depresi) serta ekonomi.. Sepanjang tahun 2014, estimasi kerugian ekonomi akibat narkoba mencapai angka yang fantastis, yakni Rp 63 triliun. Kerugian tersebut berasal dari kerugian pribadi sebesar Rp 56,1 triliun, dan kerugian sosial Rp 6,9 triliun. Kerugian pribadi mencakup biaya konsumsi narkoba, sedangkan untuk kerugian sosial sekitar 78 persen merupakan biaya akibat kematian yang mencapai 12.044 orang pertahunnya karena menyalahgunakan narkoba (Akuntono, 2015).

Jika angka yang sudah disebutkan sebelumnya belum cukup untuk membuat kita khawatir dengan urgency dari masalah penggunaan Narkoba, maka melihat dampak dari penggunaan Narkoba mungkin dapat membantu untuk melihat urgency nya menjadi lebih jelas. Penggunaan Narkoba jangka panjang disegala usia dapat berdampak pada masalah penyalahgunaan bahkan ketergantungan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Penyalahguna Narkoba diartikan sebagai orang yang menggunakan Narkoba tanpa hak atau melawan Narkoba. Bentuk dari penyalahgunaan Narkoba adalah mengkonsumsi dengan dosis yang berlebihan, memperjual-belikan tanpa izin serta melanggar aturan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sedangkan ketergantungan Narkoba adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika secara terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama  dan apabila penggunaanya dikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-tiba menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas (Simangusong, 2015). Dampak dari ketergantungan Narkoba adalah mengalami gangguan psikologis yang membuat rusaknya fungsi sosial, pekerjaan atau sekolah serta tidak mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam masyarakat (Wilis, 2005).

Selain dampak sosial dan psikologis, penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba juga membawa dampak secara medis. Secara medis penyalahgunaan narkotika akan meracuni system syaraf dan daya ingat, menurunkan kualitas berfikir, merusak berbagaia organ vital seperti : ginjal, hati, jantung, paru-paru, sum-sum tulang, penyakit hepatitis, HIV/AIDS, Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) dan bila over dosis bisa menimbulkan kematian (Sila, 2003). Untuk jumlah individu yang terinfeksi HIV sebanyak 13.287 orang dengan presentase tertinggi pada kelompok umur 25-49 tahun (68%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (18,1%), dan kelompok umur 50 tahun (6,6%). Sedangkan AIDS dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2016 dilaporkan sebanyak 3.812 orang dengan presentase tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun (35.3%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (32.3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (16.2%) (Subuh, 2016). Jumlah besar lain juga dilaporkan untuk kasus PIMS dan Hepatitis yang tidak disajikan disini. Data yang disajikan tersebut rasanya cukup untuk menunjukkan bagaimana kasus penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba menjadi penting untuk dipikirkan bersama. Lalu hal apa saja sudah dilakukan untuk mengatasi masalah penyalahgunaan Narkoba di Indonesia?.

Sudah banyak tindakan nyata yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi kasus penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba serta dampaknya. Pada awalnya penanggulangan dilakukan dengan fokus pada individu yang menyalahgunakan. Secara hukum, penyalahguna akan dikenakan sanksi pidana sebagaimna yang diatur dalam Pasal 78, Pasal 79, Pasal 81 dan Pasal 82 UU No.22 tahun 1997 Tentang Narkotika. Kebijakan untuk mempidanakan pengguna membawa pekerjaan rumah yang baru untuk pemerintah. Hal tersebut karena mempidanakan tidak serta merta membuat individu yang menggunakan berhenti dari perilakunya dalam mengkonsumsi, menyalahgunakan atau ketergantungan terhadap Narkoba.

Banyaknya jumlah pengguna dan tidak bertambahnya jumlah Lapas (Lembaga Permasyarakatan) menyebabkan jumlah yang ditangkap dan ditahan menjadi over capacity jika dibandingkan dengan jumlah Lapasnya. Besarnya jumlah terpidana yang ditangkap bukan hanya memperburuk kesejahteraan baik dalam hal kesehatan fisik dan mental para terpidana tetapi juga menambah beban keuangan yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Berdasarkan hal tersebut, menjadi penting memahami konsep kejahatan tanpa korban (crime without victim) terhadap penyalahgunaan narkotika, yang mendalilkan bahwa korban dari kejahatan ini adalah dirinya sendiri, atau pelaku yang sekaligus menjadi korban (Made, 1999). Seorang penyalahguna Narkoba dan pecandu harus dijauhkan dari stigma pidana dan diberikan perawatan karena dengan hanya mempidanakan tidak akan membuat mereka berhenti dari perilaku mereka dalam menggunakan Narkoba dan menjauhkan mereka dari dampak negatif dari penggunaan Narkoba.

Melihat hal tersebut, akhirnya pemerintah mengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 menjadi Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang menyatakan bahwa pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Rehabilitasi terhadap pecandu Narkotika adalah suatu proses pengobatan untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan, dan masa menjalani rehabilitasi tersebut diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman. Dalam Pasal 1 butir 16 dan butir 17 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 mendefinisikan rehabilitasi medis sebagai suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika, sedangkan rehabilitasi sosial didefinisikan suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu, baik fisik, mental, maupun sosial, agar bekas pecandu Narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat. Rehabilitasi terhadap pecandu Narkotika juga merupakan bentuk perlindungan sosial yang mengintegrasikan pecandu Narkotika kedalam tertib sosial agar individu tersebut tidak lagi melakukan penyalahgunaan Narkotika (Putra, 2011).

Karena fokus utama dari rehabilitasi adalah menyembuhkan atau mengembalikan fungsi penyalahguna menjadi seperti sebelum menggunakan Narkoba maka muncul pertanyaan terkait dengan kebijakan tersebut. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah menggunakan Narkoba selama bertahun-tahun diharapkan bisa berhenti dari penyalahgunaan dan ketergantungan setelah menjalani rehabilitasi yang hanya berlangsung selama beberapa bulan? Seakan menjawab pertanyaan tersebut tidak jarang terdapat fakta dilapangan bahwa banyak mantan penyalahguna yang kembali menggunakan (lapse) atau bahkan menjadi penyalahguna dan/atau ketergantungan dengan tingkat yang lebih parah dari sebelumnya (relapse) setelah keluar dari proses rehabilitasi. Cara lain yang bisa dilakukan untuk megatasi kasus penyalahguna Narkoba dan dampaknya adalah dengan Harm Reduction.

Harm Reduction merujuk pada kebijakan, program dan praktek-praktek yang tujuan utamanya adalah untuk mengurangi dampak merugikan dari penggunaan zat psikoaktif tanpa harus mengurangi konsumsi zat tersebut. Berbagai dampak merugikan yang bisa terjadi sebagai akibat dari penggunaan Narkoba adalah HIV & AIDS, Hepatitis B&C, biaya sosial, ekonomi yang timbul akibat penggunaan Narkoba, serta aspek hukum dan kriminalisasi atas penggunaan Narkoba. Intervensi dalam HR lebih difokuskan untuk mencegah dampak–dampak buruk tersebut pada orang-orang yang masih aktif menggunakan Narkoba sehingga mereka dapat tetap hidup dengan baik dan produktif sampai pengobatan berhasil atau mereka berhenti atas kesadaran sendiri (PPH Unika Atmajaya, 2017). Bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari kebijakan Harm Reduction adalah untuk mengurangi dampak merugikan dari penggunaan zat sambil secara bertahap mambantu mereka keluar dari penyalahgunaan dan ketergantungan terhadap Narkoba.

Beberapa strategi yang digunakan dalam Harm Reduction adalah sebagai berikut (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 567/Menkes/ SK/VIII/2006) :

  1. Penasun didorong untuk berhenti memakai narkoba
  2. Jika Penasun (Pengguna Napza Suntik) bersikeras untuk tetap memakai narkoba, maka ia didorong untuk berhenti mamakai cara menyuntik
  3. Jika Penasun bersikeras memakai cara menyuntik, maka ia didorong dan dipastikan tidak memakai atau berbagi peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lain
  4. Jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka Penasun didorong dan dilatih untuk menyuci hamakan peralatan suntiknya, beberapa program yang dilaksanakan secara simultan untuk mendukung strategi tersebut diatas adalah sebagai berikut : Program Penyediaan Jarum Suntik Steril dan Pemusnahan (PERJASUN) serta Program Pelayanan Kesehatan Dasar Program Penjangkauan, Komunikasi-Informasi-Edukasi, dan Rujukan Program-program tersebut diharapkan mampu mengubah perilaku pengguna sehingga mengurangi resiko infeksi HIV diantara penasun (Davis, Triwahyuono & Alexander, 2009)

 

Tidak dapat dipungkuri bahwa banyak kontroversi yang timbul dari kebijakan Harm Reduction ini. Kontroversi yang banyak muncul adalah pemikiran bahwa memberikan jarum suntik sama dengan mendukung para pengguna untuk terus menggunakan Narkoba. Selain itu tindakan memberikan jarum suntik steril juga dianggap tidak mendukung Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 menjadi Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang menyatakan bahwa pecandu Narkoba dan korban penyalahgunaan Narkoba wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Keluarga yang berharap anggota keluarganya untuk keluar atau berhenti menggunakan Narkoba, tidak dipungkiri akan menolak kebijakan tersebut karena dianggap tidak membuat penggunanya berhenti dari penggunaan Narkoba. Hal yang sama juga terlintas di benak penulis ketika pertama kali mendengar program Harm Reduction. Namun hal yang harus di perhatikan dalam HR (Harm Reduction) adalah program ini bukan tidak mendukung program rehabilitasi atau program lain yang berdampak pada berhentinya perilaku menggunakan zat adiktif tersebut. Hanya saja tidak semua individu mau atau mudah atau dengan sukarela untuk begitu saja keluar dari perilaku penggunaan tersebut. Poin yang harus diingat adalah tidak mudah untuk berhenti menggunakan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perilaku penyalahgunaan dan ketergantungan menyebabkan perubahan pada metabolisme dan system kerja tubuh yang apabila dihentikan begitu saja akan berakibat pada kesakitan secara fisik. Karena itu selama proses rehabilitasi atau proses penyembuhan diberikan program HR untuk mencegah dampak negative dari perilaku penggunaan mereka.

HR dianggap sebagai first aid atau pertolongan pertama untuk kasus penyalahguna atau ketergantungan Narkoba. Dengan pendekatan HR, para pengguna menjadi sadar akan resiko yang mereka hadapi ketika menggunakan jarum suntik secara bergantian. Jika pertolongan pertama itu berhasil maka dapat diberikan pertolongan lainnya sampai pada akhirnya mereka dengan sukarela berhenti menggunakan.  Dengan tidak memaksa mereka untuk begitu saja keluar dari perilaku mereka, membuat mereka sedikit membuka diri pada orang lain dan justru itu memudahkan program psikoedukasi. Psikoedukasi yang dilakukan selain mengenai resiko penggunaan Narkoba juga mengenai intervensi atau terapi apa yang bisa lakukan untuk keluar dari pola penyalahgunaan serta ketergantungan mereka.

Mantan pengguna dipekerjakan sebagai pendamping lapangan (outreach) agar mudah untuk melakukan pendekatan kepada kelompok pengguna. Pengalaman mereka ketika menggunakan juga menjadi poin plus karena mereka lebih banyak tahu mengenai penggunaan Narkoba dibandingkan orang awam. Selain itu memperkerjakan mantan junkies juga bisa dianggap sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka serta contoh positif pada individu yang masih menggunakan.

Pada akhirnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu para pengguna untuk keluar atau setidaknya memperburuk status mereka. Tidak ikut memberikan stigma negative bisa menjadi hal sederhana sehingga membuat mereka tidak malu untuk meminta pertolongan ketika mereka ingin keluar dari perilakunya tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa penyalahgunaan atau ketergantungan zat serta HIV/AIDS atau dampak negatif lainnya dari penyalahgunaan zat merupakan konsekuensi yang harus mereka ambil dari perilaku buruk mereka. Padahal hal tersebut malah memperburuk status mereka dan menghambat mereka untuk mencari pertolongan ketika ingin sembuh dari ketergantungan.

Memberikan stigma negative juga mencerminkan bahwa kita tidak mendukung pemerintah untuk melaksanakan UU No. 36 Tahun 2009 yang menyatakan tentang kesehatan, bahwa setiap orang berhak mendapat lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Bukankah penanganan Narkoba bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun semua anggota masyarakat. Hal lain yang harus dipikirkan bersama adalah tidak semua mantan penyalahguna berakhir menjadi orang yang tidak berguna. Terbukti dengan salah satu artikel yang menulis bahwa ada seorang mantan pengguna yang bisa menjadi miliuner setelah keluar dari ketergantungannya.

Khalil Rafati hampir mati setelah dia overdosis untuk kali kesembilan. Rafati yang pada saat itu ketergantungan pada kokain dan obat bius tidur di jalan-jalan di Los Angeles, AS, dan hidup dalam kegelapan di bawah pengaruh narkoba. Overdosis kesembilan itu lah yang mengubahnya. ”Saya harus berubah untuk menyelamatkan hidup saya,” terangnya. Sekarang setelah terbebas dari ketergantungannya, Rafati sukses mengembangkan bisnis makanan kesehatan Sunlife Organics dengan pendapatan tahunan lebih dari USD 6 juta (Shintia, 2017)

Jadi bukankah mungkin akan ada banyak Rafati lain jika kita menolong mereka untuk keluar dari penyalahgunaan dan ketergantungan mereka?

 

Reference :

Akuntono, I., (2015). Dalam Setahun, Estimasi Kerugian Akibat Narkoba Mencapai Rp 63 Triliun. Diakses pada tanggal 15 Juli 2015 dari http://nasional.kompas.com/read/2015/06/26/11444211/Dalam.Setahun.Estimasi.Kerugian.Akibat.Narkoba.Mencapai.Rp.63.Triliun

Anymous, (2004). Go Ask Alice. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Indriani, R., (2016). Memprihatinkan, Anak Pengguna Narkoba Capai 14 ribu. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017 dari http://www.suara.com/lifestyle/2016/05/02/173838/memprihatinkan-anak-pengguna-narkoba-capai-14-ribu

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, (2006). Surat Keputusan Nomor 567/Menkes/SK/VIII/2006. Guideline for Harm Reduction Implementation on Narcotics, Psychotropic, and Other Addictive Substances.

Made, W. D., (1999). Kronik dalam Penegakan Hukum Pidana. Jakarta : Guna Widya.

Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atmajaya, (2017). Informasi Dasar Harm Reduction. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017 dari http://arc-atmajaya.org/informasi-dasar-harm-reduction/

Putra, Z., (2011). Upaya Rehabilitasi Bagu Penyalahguna Narkotika oleh Badan Narkotika Nasional Kota Padang (Studi Kasus di BNNK/ Kota Padang. Skripsi Fakultas Hukum :  Universitas Andalas Padang

Rachmawati, I., (2016). Buwas : Pengguna Narkoba di Indonesia Meningkat Hingga 5,9 Juta Orang. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017 dari http://regional.kompas.com/read/2016/01/11/14313191/Buwas.Pengguna.Narkoba.di.Indonesia.Meningkat.hingga.5.9.Juta.Orang

Shintia, D., (2017). Kisah Inspiratif Mantan Pecandu Narkoba yang Jadi Miliuner. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017 dari http://www.jawapos.com/read/2017/03/28/119207/kisah-inspiratif-mantan-pecandu-narkoba-yang-jadi-miliuner

Sila, M. A., (2003). Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika. Jakarta: Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Proyek Pengkajian Pendidikan Agama.

Simangusong, J., (2015). Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja (Studi Kasus pada Badan Narkotika Nasional Kota Tanjung Pinang).  Jurnal Program Studi Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik : Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjung Pinang.

Subuh, M., (2016). Laporan Situasi Perkembangan HIV/ AIDS dan PIMS sampai dengan Desember 2016. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017 dari http://spiritia.or.id/Stats/detailstat.php?no=8

Wilis, S., (2005). Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

 

 

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Oleh: Luthfi Mardhiansyah

Refleksi saya dalam mengikuti mata kuliah harm reduction adalah saya dipaparkan tentang jenis-jenis obat narkotika. Satu hal yang menarik adalah narkotika jenis terbaru yakni “NPS” New Psychoactive Substance yakni narkotika jenis terbaru seperti Flaka,metilon dan juga narkotika yang berbentuk sintetis yang bisa menyebabkan halusinogenik. Pada pelajaran lain yang telah didapat adalah epidemology, epidemology yakni ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit, bagaimana saat jarum suntik itu berganti-ganti dari satu individu ke individu lain bisa menularkan penyakit HIV. Selain itu penyebaran HIV bisa melalui free sex dan kemungkinan untuk sakit hepatitis juga besar,  saya juga berusaha untuk memahami bagaimana sulitnya dinamika kehidupan drug user dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Jika sudah terkena narkoba terlebih sampai jarum suntik, selama hidupnya hanya mencari dan menggunakan narkoba, apapun yang terjadi pada dirinya “barang” tersebut harus didapatkan. Drug user tidak bisa melakukan aktivitas yang  normal seperti pada orang umumnya, maka dari itu banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari zat tersebut. Saya juga diajarkan bagaimana pengaruh dunia farmasi pada drug users. Dari berbagai ilmu yang telah pembicara jelaskan bahwa ada terapi obat yang bisa digunakan seperti Metadon & Suboxone untuk menggantikan obat-obatan yang sering drug user gunakan. Akan tetapi efek dari Metadon & Subuxone tidak terlalu optimal seperti narkotika yang sehari-hari mereka gunakan. Dari kursus Harm Reduction yang telah saya dapat selama 3 hari, bagaimana treatment  psikologis CBT/BDRRC, yakni treatment untuk mengubah perilaku pada drug user.  Terapi ini lebih menekankan pada perilaku drug user untuk kembali ke aktivitas sehari-hari, memberikan jadwal yang rutin yang harus dilakukan pada pengguna untuk kembali melakukan aktivitasnya. Lalu jika drug user terlihat sudah pulih, psikolog harus menanyakan jika sudah keluar dari treatment apa yang akan dilakukan, jika ingin kerja, kerja apa? Kejar terus pertanyaan tersebut hingga jelas tujuanya agar tidak kembali ke narkotika.

Kontribusi saya sebagai calon psikolog kepada pengguna narkoba atau drug user adalah saya akan menyarankan pada pengguna narkoba yakni teknik CBT, saya akan membuat suatu program yang bersifat positif, hal ini dimaksudkan agar klien tidak mengalami Craving atau hasrat yang kuat untuk menggunakan kembali Napza.

Oleh karena itu pengguna narkoba akan saya buatkan suatu program hal-hal positif yang bisa dilakukan pada drug user:

  1. Melakukan olahraga (futsal, gym, yoga,dll)
  2. Mengerjakan keterampilan yang produktif
  3. Melakukan hobi yang klien sukai secara teratur
  4. Curhat tentang kondisi klien pada orang yang mendukung kesembuhan klien
  5. Mengajak klien untuk kembali ke agama yakni dengan berdoa dan sembahyang

 

Kelima hal tersebut perlu dirancang agar klien tetap beraktivitas dan terus sibuk dan klien tidak mengalami nganggur. Jika klien tidak mempunyai aktivitas/nganggur, pemikiran untuk menggunakan kembali napza sangat besar. Maka dari itu kelima hal ini perlu dilakukan agar klien terhindar dari munculnya pikiran – pikiran untuk kembali menggunakan Napza.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Oleh: Angellia Lestari Christiani

Pusat Penelitian HIV/ AIDS Atma Jaya (PPH) telah secara rutin mengadakan Harm Reduction Workshop bagi mahasiswa magister psikologi profesi klinis dewasa. Salah satu tujuan dari adanya kursus ini adalah untuk mengenalkan konsep harm reduction kepada kami para mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa klinis dewasa menyadari kurangnya pemahaman mengenai pemarsalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA terutama dalam konteks psikologi. Oleh karena itu, kali ini saya hendak berbagi mengenai tiga hari yang saya lalui dalam kursus ini.

Istilah harm reduction menjadi istilah yang penting untuk dipahami bagi kami calon psikolog, serta sering digunakan sepanjang tiga hari ini. Harm reduction merupakan kebijakan, program dan praktik yang bertujuan untuk mengurangi kerugian terkait dengan penggunaan obat psikoaktif pada orang yang tidak mampu atau tidak mau berhenti (Hunt, 2010). Mengapa penting untuk memahami harm reduction ini? Karena 43-56% pengguna jarum suntik (penasun) yang terdapat pada empat kota (Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya) di Indonesia telah terinfeksi HIV (Surveilans Terpadu-Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi di Indonesia [STBP], 2007). Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling berisiko di Indonesia. Prevalensi HIV antara yang menyuntik NAPZA selama dua tahun atau kurang, jauh lebih rendah daripada yang telah menyuntik selama lebih dari dua tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak infeksi HIV pada Penasun dapat dicegah jika mereka dijangkau sedini mungkin melalui intervensi (STBP, 2007).

Salah satu pencegahan yang kami pelajari selama tiga hari kursus bersama PPH adalah Program Terapi Rumatan Metadon (PRTM). PRTM adalah pemberian obat metadon harian kepada pasien ketergantungan heroin di institusi kesehatan seperti Puskesmas atau Rumah Sakit dengan pengawasan langsung oleh petugas kesehatan. Sifatnya rumatan atau mempertahankan pasien selama mungkin menjalani terapi tersebut sampai akhirnya dosis dapat diturunkan bertahap dan, bila memungkinkan, berhenti (Leavitt, 2004). Metadon diproduksi dalam bentuk cairan, tablet, dan bubuk. Yang digunakan untuk pengobatan adalah yang berbentuk cairan yang diminum, dan karenanya lebih aman daripada penggunaan heroin yang disuntikkan. Oleh karena itu, kami mendapatkan tugas untuk mengunjungi puskesmas yang memberikan layanan PRTM agar dapat mengobservasi langsung pasien, pemberi layanan kesehatan, serta petugas lapangan.

Saya bersama empat orang mahasiswa lainnya melakukan kunjungan kepada Puskesmas Tebet Timur. Layanan PRTM di Puskesmas Tebet Timur sudah memasuki tahun kesepuluh. Layanan PRTM pada puskesmas dilayanani oleh dua orang dokter yang secara bergantian berhadapan dengan pasien. Satu per satu pasien akan dipanggil ke dalam ruangan dengan pintu yang terbuka, sehingga pasien lain yang menunggu giliran dapat melihat kegiatan yang terjadi di dalam ruangan.

Durasi pasien menjalani PRTM beragam, mulai dari beberapa minggu hingga 10 tahun, atau sejak pertama PRTM dibuka di Puskesmas Tebet Timur. Saya dapat merasakan suasana “kekeluargaan” selama layanan PRTM dibawakan oleh Dokter Juju, salah satu dokter yang bertugas dan kerap dipanggil “Bunda” oleh para pasien. Saya membayangkan apabila saya harus bertemu dengan Dokter Juju setiap hari selama 10 tahun berturut-turut, maka otomatis saya juga akan ikut memanggil beliau dengan sebutan “Bunda”. Dokter Juju dengan ramah mengajak berbicara setiap pasien, serta menanyakan mengenai significant other dari para pasien. Pada saat Dokter Juju memanggil satu per satu nama pasien, pasien lain yang berdiri di depan pintu langsung membantu memanggil masuk pasien yang dimaksud. Mereka terlihat sudah menghafal nama dan wajah dari sebagian besar pasien. Saya menyadari, bertemu setiap hari, merasakan telah mengalami masa lalu yang sama, proses yang sama, menjalani terapi yang sama, tentunya menimbulkan “kekeluargaan” yang saya maksud tersebut.

Saat saya berbicara dengan pasien dan menanyakan mengenai pengalaman mereka menerima layanan PRTM di Puskesmas Tebet Timur, mereka mengatakan bahwa hal tersebut juga mereka rasakan. Para dokter terbuka mendengarkan keluhan mereka, dan meskipun terkadang ada beberapa pasien yang “kabur” dari PRTM, pada saat mereka kembali setelah bolos, para pemberi layanan kesehatan tetap menerima mereka dengan ramah. Kehadiran kami para mahasiswa untuk berbicara dan mewawancarai mereka juga diterima dengan baik oleh para pasien. Para pasien bahkan membantu memanggilkan teman-teman yang dapat diajak untuk wawancara. Kemudian mereka tidak mengganggu ketika wawancara dilakukan oleh para mahasiswa.

Saya menemukan beberapa pasien yang sudah mulai mendapat dosis methadone yang cukup kecil dan bahkan dapat membawa pulang methadone. Pada saat berbincang dengan mereka, salah satu hal yang selalu mereka kemukakan, pendorong nomor satu mereka dapat mencapai tahap saat ini adalah diri sendiri. Faktor eksternal tidak dapat memerankan peran sebesar motivasi intrinsik. Keinginan pribadi berperan besar dalam mempertahankan konsistensi dan kekuatan batin mereka agar dapat setia datang ke puskesmas tiap hari, menghindari mixing menggunakan obat-obatan terlarang lain, dan membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Masalahnya, tidak semua orang mencapai kesadaran ini dengan mudah. Akan tetapi, berbicara dengan pasien-pasien yang mencapai kesadaran ini membuat saya merasa bangga pada mereka. Meskipun saya baru bertemu satu kali, namun mendengar berat badan mereka yang naik sejak mengikuti PRTM, mendengar rencana mereka untuk menikah dengan pasangan mereka saat ini, melihat sendiri istri yang setia menemani datang membuat saya memiliki optimisme sendiri.

Kunjungan ini juga turut mengusik saya dari sisi lain, yaitu karena adanya kekecewaan pribadi yang saya rasakan. Puskesmas Tebet Timur membuka layanan PRTM mulai dari pk 13.00 hingga 15.00. Salah satu alasan mengapa layanan PRTM dilaksanakan pada siang hari adalah karena menghindari padatnya masyrakat yang berobat pada pagi hari. Petugas layanan berusaha menghindarkan pasien lain yang berobat ke puskesmas, agar tidak bertanya-tanya mengenai metadon yang diminum. Karena warnanya yang merah dan diminum oleh semua pasien PRTM yang datang, beberapa pasien jadi menanyakan obat apakah itu, dan untuk siapakah obat tersebut. Oleh karena itu, layanan dibuka pada siang hari, saat kepadatan puskesmas mulai menurun.

Saya sendiri menyayangkan karena adanya pandangan seperti di atas. Selain itu, pemberian layanan PRTM yang terbatas hanya pada beberapa puskesmas saja. Berdasarkan wawancara saya bersama dokter yang bertugas, ada beberapa pasien yang datang dari lokasi yang cukup jauh dari puskesmas, dikarenakan tidak ada layanan PRTM di puskesmas yang dekat dengan rumahnya. Salah satu alasan mengapa PRTM tidak dilakukan pada banyak puskesmas adalah karena penolakan masyarakat sekitar. Masyarakat keberatan saat para mantan pengguna narkoba ini datang ke puskesmas untuk menerima layanan tersebut. Pandangan negatif yang masih banyak diterima mantan pengguna narkoba membuat mereka memiliki keterbatasan dalam akses layanan kesehatan.

Saya menyadari perjuangan melawan NAPZA masih panjang, PRTM sendiri merupakan satu titik terang yang memberi hasil cukup mengejutkan. Kondisi dimana putauw yang sedang sulit, bahkan hampir mustahil untuk didapatkan tentunya mendorong kondisi ideal dari PRTM ini. Akan tetapi, kita perlu turut memikirkan layanan terapi lain yang dapat ditujukan bagi NAPZA yang masih banyak beredar di luar sana seperti shabu-shabu. Apakah ada terapi lain yang dapat diberikan dan membawa efektivitas yang serupa seperti PRTM ini? Kita sebagai mahasiswa calon psikolog klinis dewasa tentunya dapat turut berperan dalam mewujudkan kondisi ideal layanan PRTM, atau bahkan memunculkan terapi bagi NAPZA lainnya. Tentunya akan pengalaman berharga selama tiga hari dari PPH ini, adalah salah satu langkah yang diupayakan bagi para calon psikolog klinis dewasa untuk menuju kesana.

Daftar Pustaka

Hunt, N. (2010). A review of the evidence-bae for harm reduction approaches to drug use. Diakses pada Kamis, 13 Juli 2017 dari http://www.forward-thinking-on-drugs.org/review2-print.html

Leavitt, S. B. (2004). A community-cantered solution for opioid addiction: Methadone maintenance treatment (TMT). Mundelein: Addiction Treatment Forum.

Surveilans Terpadu-Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi di Indonesia [STBP]. (2007). Rangkuman surveilans pengguna NAPZA suntik. Diakses pada Kamis, 13 Juli 2017 dari http://www.aidsindonesia.or.id/repo/IBBSHighlightsIDU2007-ind.pdf

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Oleh Frisca Melissa Iskandar T.

Selama tiga hari saya mengikuti kursus Harm Reduction sebagai pembekalan dan prasyarat untuk dapat masuk ke Semester-3 Magister Profesi Psikologi Klinis, yang dimana pada periode tersebut saya akan terpapar pada kasus-kasus, salah satunya yang terkait dengan Napza/ penasun/ HIV-AIDS. Walaupun waktu kursus yang diberikan relatif singkat, namun materi yang diberikan cukup intens dan padat. Oleh karena itu, setelah mengikuti kursus Harm Reduction saya mendapatkan beberapa manfaat yang dapat berguna bagi saya sebagai calon Psikolog Klinis. Manfaat-manfaat tersebut meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan personalinsight.

Pada aspek pengetahuan, poin-poin penting yang saya dapatkan adalah :

  • Harm Reduction merupakan tindakan pengurangan risiko bagi para penasun, dengan mensosialisasikan dan membagikan jarum suntik steril gratis bagi para penasun aktif. Tujuan dari tindakan ini adalah agar kesehatan para penasun, serta orang di sekitarnya, menjadi lebih aman dan terhindar dari HIV-AIDS (akibat penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian)
  • Di Indonesia sendiri secara khusus, diperlukan adanya kebijakan mengenai Napza/ penasun/ ODHA yang lebih manusiawi dan bijaksana untuk mengatur dan menindaklanjuti penyalahgunaan Napza. Sampai pada saat ini, kebijakan yang ada cenderung masih sangat kaku (hitam-putih), serta kurang ‘pengertian’ dan manusiawi. Penindaklanjutan yang ada terhadap para penasun kebanyakan serta-merta langsung menjebloskan mereka ke dalam penjara, tanpa memikirkan aspek-aspek lain yang terkait yang juga terkena dampaknya
  • Masih banyak penasun yang ternyata masih sangat minim informasi mengenai efek/ dampak/ bahaya/ risiko dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, sehingga menjadi kurang hati-hati dan bertanggung jawab di dalam menggunakan jarum suntik
  • Semakin banyak obat-obatan/ zat-zat baru yang muncul di dunia dan juga di Indonesia, maka kewaspadaan, wawasan, dan kepedulian akan hal ini harus ditingkatkan
  • Sudah ada kepeduliaan dari LSM dan lembaga/ institusi lainnya terhadap penyalahgunaan Napza, dengan adanya : program-program terkait, fasilitas, dan sebagainya
  • Khususnya sebagai calon Psikolog Klinis, mengetahui bentuk intervensi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Behavioral Drug and Risk Reduction Counseling (BDRRC)

Pada aspek keterampilan saya juga ditunjang oleh kursus ini, sebab selain mendapatkan teori diberikan juga kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengan para penasun. Selama kursus sempat didatangkan ke kampus dua orang penasun untuk menceritakan pengalamannya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis terkait penyalahgunaan Napza yang pernah dilalui oleh mereka. Selain itu juga ada kunjungan lapangan ke salah satu LSM terkait, yaitu ke KIOS Atma Jaya. Dengan adanya pengalaman tersebut, saya menjadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang-orang penasun. Dari para penasun pun saya mendapatkan kosa kata yang baru bagi saya, yaitu istilah-istilah yang lazim dan sering digunakan oleh para penasun untuk berkomunikasi satu sama lain, sehingga nantinya saat harus menangani kasus nyata lainnya terkait Napza/ penasun/ ODHA saya seharusnya sudah lebih bisa memahami dan ‘nyambung’ dengan klien saya.

Perubahan sikap juga saya dapatkan setelah mengetahui lebih banyak  mengenai penyalahgunaan Napza dan Harm Reduction. Dulu, jujur saja saya kurang peduli dengan hal-hal tersebut. Saya merasa bahwa hal-hal tersebut terlalu ‘jauh’ (bukan lingkungan sehari-hari saya), tidak ada hubungannya dengan saya, dan bukan urusan saya. Namun setelah mengikuti kursus ini mata hati saya terbuka, saya menyadari bahwa Napza/ penasun/ HIV-AIDS tidak mengenal usia, latar belakang, tempat, dan waktu. Tidak tertutup kemungkinan bahwa orang-orang di sekitar saya, yang sering bergaul dengan saya, juga calon klien saya nantinya adalah orang-orang yang bergelut dengan masalah ini. Oleh sebab itu, mulai dari sekarang saya harus lebih terbuka dan peduli terhadap masalah terkait penyalahgunaan Napza/ penasun/ HIV-AIDS.

Personal-insight yang saya dapatkan dari kursus ini adalah bahwa dengan segala pengetahuan dan bekal yang sudah/akan saya miliki, sebagai calon Psikolog Klinis saya harus berkontribusi membantu para penyalahguna Napza/ penasun/ ODHA dalam memberikan pemahaman/pengertian mengenai apa yang mereka lakukan dan alami, serta membantu dan mendampingi mereka yang ingin pulih (khususnya dari sisi psikis/mental) selama proses pemulihannya. Karena untuk dapat pulih ataupun berhenti dari hal ini bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan bukan hanya keinginan yang kuat dari dalam diri sendiri, namun juga dukungan yang kuat juga serta konsisten dari lingkungan sosial di sekitarnya.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

 

Ngapain lo ambil klinis?

Ngapain lo ambil klinis?

oleh: Arnold Lukito

qualitative researchPertanyaan yang sering sekali saya temui ketika rekan-rekan sejawat saya tahu saya mengambil program Magister Psikologi Profesi Klinis Dewasa. Pertanyaan yang juga seringkali saya respon hanya dengan menyengir, tergantung seberapa dekat saya dengan orang itu. Pertanyaan yang kadang membuat saya malas menjawabnya, terlebih kalau diajukan dengan nada tidak percaya.

Banyak alasan orang menanyakan hal itu. Alasan yang paling sering, dan ironisnya paling tidak saya sukai, adalah karena saya mengambil peminatan Psikologi Sosial ketika saya berkuliah di S1. Sejak dulu saya paling menentang pengkotak-kotakan ilmu. Apalagi kalau ilmu yang sama hanya beda peminatan seperti yang saya alami. Justru saya merasa sangat beruntung sempat terpapar pada hal-hal yang diajarkan di kelas peminatan Psikologi Sosial, karena sangat memperkaya dan justru menjadi inventori pengetahuan yang berharga dalam mendalami Psikologi Klinis saat ini.

Salah satu paparan yang saya dapatkan saat mengambil kelas peminatan adalah mengenai harm reduction. Lima tahun lalu, saya pertama kali berkenalan dengan Pusat Penelitian HIV/AIDS (PPH) UNIKA Atma Jaya dan juga Kios Informasi Kesehatan UNIKA Atma Jaya. Di situ jugalah saya pertama kali mengenal konsep harm reduction. Di satu sisi saya merasa beruntung terpapar lebih dini pada konsep tersebut, terlebih ketika mengetahui mayoritas teman seangkatan saya belum pernah mendengar konsep itu. Di sisi lain, hal tersebut justru membuat saya sedikit merasa sedih.

Saya kurang tahu bagaimana dengan Fakultas Psikologi di Universitas lain, tapi sepanjang yang saya tahu untuk jenjang S1 konsep harm reduction memang relatif kurang populer di luar lingkup mahasiswa peminatan Psikologi Sosial. Padahal menurut saya, harm reduction adalah suatu pendekatan yang cukup penting diketahui oleh mahasiswa peminatan Psikologi Klinis. Saya setuju dengan kurikulum Magister Psikologi Profesi Klinis Dewasa UNIKA Atma Jaya yang merasa harm reduction sebagai suatu hal yang penting hingga mendapat porsi tersendiri dalam pembekalan para mahasiswa. Dengan segala rasa hormat, saya merasa terkadang ini adalah hal yang luput dari rekan-rekan Psikolog maupun praktisi Psikologi Klinis, atau kita sebut Clinician. Kasus-kasus, masalah, dan pendekatan yang bersifat individual dan mikro mungkin cenderung lebih populer atau familiar bagi Clinician. Memang hal tersebut tidak salah, dan tidak berarti semua Clinician harus mendalami harm reduction. Namun alangkah baiknya jika setidaknya rekan-rekan Clinician terpapar pada hal tersebut sebelum memutuskan apakah hendak memperdalamnya atau tidak.

Berkaca dari pengalaman saya ketika S1, hal yang paling berkesan bagi saya saat itu ketika pertama kali mengenal harm reduction adalah tersadarnya saya betapa kompleksnya masalah yang ditangani. Hal yang kembali diingatkan pada saya saat ini ketika mengambil S2. Memang saya belum bisa sepenuhnya memutuskan apakah saya akan mendalami ini ke depannya. Namun saya dapat mengatakan dengan cukup tegas bahwa saya percaya harm reduction adalah suatu pendekatan dan paradigma yang perlu diketahui dan dikenal seluas-luasnya. Tidak hanya oleh Clinician, namun juga oleh masyarakat Psikologi, bahkan masyarakat secara umum. Terlebih mengingat masih adanya salah kaprah dan pemahaman yang keliru mengenai harm reduction, yang seolah dianggap justru mempromosikan perilaku-perilaku buruk.

Mengacu pada skema matriks pengetahuan oleh Drew (1999), yang biasa dikenal sebagai Drew’s Boston Box, ada dua parameter yaitu pengetahuan dan kesadaran, yang membentuk menjadi empat kuadran, yaitu:

  1. Tahu dan sadar kalau tahu
  2. Tahu tapi tidak sadar kalau tahu
  3. Tidak tahu tapi sadar kalau tidak tahu
  4. Tidak tahu dan tidak sadar kalau tidak tahu

 

Bagi sebagian besar orang nampaknya konsep harm reduction masih berada dalam kuadran “tidak tahu dan tidak sadar kalau tidak tahu”. Tugas kitalah sebagai orang-orang yang sudah mempelajari maupun mendalami dan aktif terlibat dalam harm reduction untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal ini, termasuk pemahaman yang tepat mengenainya. Ini dapat kita lakukan dimulai dari hal sederhana dan dari lingkungan terdekat kita. Dengan demikian setidaknya kita dapat menggeser konsep harm reduction, setidaknya menjadi “tidak tahu tapi sadar kalau tidak tahu”. Alangkah baiknya kalau bisa sampai menjadi “tahu dan sadar kalau tahu”.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Berdamai dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan Diri Sendiri

Oleh Jessica Wilhelmina A 

Penyalahgunaan narkoba baik di Indonesia maupun internasional sudah terjadi dalam waktu yang lama. Narkoba hadir sebagai “sarana rekreasi” bagi para penggunanya yang berasal dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Pada awalnya, pengguna umumnya tidak benar-benar mengetahui dampak dari penyalahgunaan obat tersebut. Mereka hanya menikmati efek obat yang dikonsumsinya dan tanpa disadari membuat mereka terus menggunakannya secara berulang hingga menjadi kecanduan.

Narkoba merupakan permasalahan yang kompleks dan untuk memahaminya dengan baik dibutuhkan cara pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Perlu pendekatan multidimensional untuk menjelaskan permasalahan narkoba secara komprehensif. Misalnya, tidak ada faktor tunggal yang dapat menentukan mengapa seseorang menjadi pecandu (Mooney, Dold, & Eisenberg, 2014). Biasanya para pecandu mengaku bahwa alasannya untuk mencoba menggunakan narkoba adalah ikut-ikutan teman. Namun tidak serta merta kita dapat menentukan bahwa faktor lingkungan yang menjadi penyebab utama. Pada kenyataannya, ada pula orang-orang yang tetap tidak menggunakan narkoba walaupun orang-orang sekitarnya mayoritas adalah pecandu narkoba. Hal tersebut memberikan pemahaman yang mendalam bahwa kemungkinan terdapat hal-hal lain yang dapat menjelaskan mengapa individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan narkoba dan menjadi ‘ketagihan’.

Saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa pecandu narkoba terkait pengalaman mereka saat masih mengkonsumsi. Banyak alasan mengapa mereka memutuskan untuk mencoba narkoba sampai pada akhirnya menjadi kecanduan, antara lain ikut-ikutan teman, stress karena patah hati, ingin mencari pengakuan di dunia luar, dan masih banyak alasan lainnya. Kesimpulannya, mereka menggunakan narkoba bukan semata-mata karena terpengaruh lingkungan, namun pada dasarnya kecenderungan perilaku tersebut dilatarbelakangi oleh adanya berbagai masalah dikehidupan pribadi para pecandu yang membuat mereka memilih narkoba sebagai ‘jalan keluar’ untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal, para pecandu, khususnya yang saya wawancara, sangat menyadari bahwa narkoba hanya dapat memberikan efek sementara yang membuat seakan-akan masalah mereka hilang dari pikiran akan tetapi pada kenyataannya masalah tersebut tetaplah ada dan tidak terselesaikan dengan tuntas. Dengan kata lain, para pecandu narkoba memilih penyelesaian masalah yang keliru karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah utama dalam kehidupannya dan tanpa disadari mereka menambah masalah baru dengan menjadikan narkoba sebagai ‘pelarian’. Hal ini sejalan dengan hasil sebuah penelitian yang mengatakan bahwa kurangnya kemampuan seseorang untuk melakukan problem solving dapat meningkatkan kecederungan seseorang untuk menggunakan narkoba (Herzog, 1990).

Selain itu, faktor psikologis yang ternyata mempengaruhi kecenderungan individu menggunakan narkoba adalah penilaian individu terhadap harga dirinya. Individu yang memiliki penilaian rendah terhadap harga dirinya memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menggunakan narkoba (Khajehdaluee, dkk., 2013). Para pecandu narkoba yang sempat saya wawancara mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka mulai menggunakan narkoba mulai dari umur 18 tahun sampai dengan 20 tahun ke atas. Pada masa itu individu sedang dalam tahap mencari jati diri. Para pecandu mengakui bahwa ketidaksabilan emosi, keiinginan untuk tampil hebat dan perasaan ingin diakui menjadi alasan mengapa mereka menggunakan narkoba. Tanpa disadari efek menggunakan narkoba justru sebaliknya, semakin membuat mereka merasa rendah diri terutama dalam melakukan relasi sosial. Pecandu pada umumnya cenderung menarik diri dari lingkungan social.

Melalui pemaparan di atas terlihat bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan narkoba. Begitu pula sebaliknya, banyak faktor yang membuat individu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba dan menghilangkan adiksinya. Saya belajar dari pengalaman para pecandu bahwa hal yang terpenting ketika pecandu ingin menghentikan adiksinya adalah memiliki keinginan yang kuat dan tulus untuk lepas dari narkoba. Namun, untuk melepaskan diri dari narkoba para pecandu perlu menjalani proses yang panjang. Ketika individu mengalami kecanduan terhadap narkoba, hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupannya.

Penggunaan narkoba yang berlebihan tentunya berdampak negatif pada kondisi biologis individu itu sendiri karena ketika individu sudah mulai mengalami adiksi, maka ada perubahan pada system saraf pusat. Selain itu, kecanduan narkoba membawa perubahan yang cukup besar kondisi psikologis individu, seperti emosi yang tidak stabil, impulsif dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini tentunya memberikan dampak yang cukup besar terhadap lingkungan para pecandu. Tidak jarang para pecandu mendapatkan stigma negatif sehingga pada akhirnya kehilangan orang-orang di sekitarnya dan merasa terkucilkan. Oleh karena itu, proses recovery perlu dipahami sebagai proses yang panjang, membutuhkan usaha yang besar dan dukungan dari lingkungan sekitar sehingga dibutuhkan kesabaran dan kerja keras untuk melakukannya. Sayangnya, tidak semua pecandu yang ingin lepas dari narkoba tahu bagaimana cara melakukannya. Oleh karenanya, penting bagi pecandu untuk mencari pertolongan dari pihak luar dan bersedia untuk terbuka menceritakan kepada keluarga atau orang terdekat sebagai salah satu upaya seeking for help. Selain itu, mencari pertolongan kepada tenaga professional atau komunitas yang berhubungan erat dengan rehabilitasi juga sangat membantu. Intinya, pecandu harus terus berupaya untuk terkoneksi dengan lingkungan untuk membantu proses recovery.

Semua ketergantungan memiliki efek psikologis pada individu, baik pengguna maupun orang-orang sekitarnya. Dengan segala kerugian yang dihasilkan oleh para pecandu terhadap lingkungannya, mungkin tidaklah mudah untuk menerima kembali kehadiran pecandu dan mempercayai keinginan mereka untuk kembali ‘hidup normal’. Akan tetapi, penerimaan dari lingkungan akan sangat membantu pecandu untuk tetap berada dalam proses recovery dan tidak kembali untuk mengkonsumsi narkoba. Sulitnya menjalani proses recovery harus dipahami dengan baik oleh lingkungan sekitar para pecandu. Oleh karenanya, kemajuan sekecil apapun sangat berarti.

Melalui pengalaman para pecandu, saya belajar tentang pentingnya memiliki keyakinan diri dan pondasi yang kuat dalam hidup. Selain itu, lari dari masalah bukanlah pilihan yang tepat. Pada akhirnya, kita tetap harus berdamai dengan diri sendiri dan membiarkan diri untuk diproses oleh kehidupan sehingga dapat bertransformasi menjadi individu yang lebih baik.

Referensi :

Herzog, Laura. (1990). Drug usage and interpersonal problem solving deficits (Honors Theses, Southern Illnois University Carbondale). Diakses melalui http://opensiuc.lib.siu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027&context=uhp_theses  

Khajehdaluee, M., A. Zavar, M. Alidoust, & R. Pourandi. (2013). The relation of self-esteem and illegal drug usage in high school students. Jurnal dari National Library of Medicine National Institute of Health. Vol.15(11).  

Mooney, Al J., Catherine Dold, & Howard Eisenberg. (2014). The recovery book : Answers to all your questions about addiction and alcoholism and finding health and happiness in sobriety. New York, USA : Workman Publishing Co., Inc.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

           

Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Oleh Devina Wicaksana

Wah, kalo lagi pedaw (efek teler setelah menggunakan zat heroin, red) mah rasanya enak banget mbak, beban pikiran, stres, apa juga hilang aja, kayak udah nggak punya masalah apa-apa lagi. Damai mbak, udah nggak mikirin apa-apa lagi. Badan rasanya enak, sakit apa juga hilang semua, jadi ngantuk…

demikian ujar C mengenai sensasi kenikmatan yang ia alami semasa ia masih aktif menggunakan putauw (heroin). C merupakan narasumber wanita yang bersedia penulis temui selepas mengikuti Program Terapi Rumatan Methadone (PTRM) di Puskesmas Grogol Petamburan pada hari Rabu, 12 Juli 2017 yang lalu.

C mengaku sudah mengikuti terapi methadone sejak tahun 2008 secara rutin semenjak dirinya dan suaminya terdiagnosa positif mengidap HIV / AIDS sepuluh tahun silam. Sejak saat itu, C dan suaminya harus rutin mengonsumsi ARV dan methadone untuk mengatasi gejala wakas (gejala putus obat atau withdrawal). Saat ini C tinggal sendiri di daerah Poris tanpa ditemani siapapun, lantaran suami C harus mendekam di balik jeruji besi. C tidak kuasa membendung air matanya ketika menceritakan bahwa suaminya rela menggantikan dirinya yang pernah tertangkap polisi sedang mengedarkan putauw. Kondisi ini menyebabkan putri semata wayang mereka yang baru berusia 6 tahun harus tinggal bersama kedua orang tua C di kampung di daerah Jawa Tengah. Selama berbincang-bincang dengan penulis, beberapa kali C terlihat dihampiri oleh dua orang laki-laki yang terlihat gelisah dan berjalan mondar-mandir di dekat C. Kedua laki-laki tersebut meminta sesuatu kepada C, yang dijawab C dengan kalimat sederhana “lagi nggak ada gua”.

Perkenalan C dengan narkotika sudah dilakukannya semenjak masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Ia dikenalkan pada putauw oleh pamannya sendiri yang saat itu tertangkap basah sedang cucaw di rumah C ketika kedua orang tua C sedang pergi. Awalnya C menolak untuk menyuntikkan zat terlarang tersebut masuk ke tubuhnya, namun ia terjebak dalam provokasi pamannya yang mengatakkan “masa anak bidan takut sama jarum suntik, malu dong.” Mulai saat itu, C akhirnya menjadi penasun bersama-sama dengan teman-teman sekolahnya dan membeli putauw dengan cara patungan dari uang jajan mereka masing-masing.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasal 1 ayat (1), (2), dan (3), Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai menghilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini (Nugroho, 2016). Berdasarkan definisi tersebut, jelas bahwa apa yang dialami oleh C sudah termasuk ke dalam ketergantungan zat.

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi kelima/ DSM-V (APA, 2013), kriteria A untuk mendiagnosa seseorang mengalami Opioid Use Disorder ditandai dengan sebelas ciri-ciri dengan minimal 2 indikator terpenuhi dalam periode 12 bulan terakhir. Pola penggunaan opioid yang bermasalah dan berakibat pada penurunan yang signifikan ini dapat termanifestasi dalam: (1) dosis yang dikonsumsi lebih banyak atau digunakan melebihi periode waktu yang dimaksudkan; (2) Ada hasrat yang terus-menerus atau usaha yang tidak berhasil untuk mengurangi ataupun mengendalikan penggunaan zat; (3) Penderita menghabiskan waktu yang sangat banyak untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan zat, menggunakan zat, serta pulih dari efek zat tersebut; (4) Mengidam, atau keinginan yang sangat kuat, adanya desakkan untuk mengonsumsi zat; (5) Penggunaan zat berakibat pada adanya kegagalan untuk memenuhi sebagian besar peran dan kewajiban dalam pekerjaan, sekolah atau di rumah; (6) Penggunaan zat yang berkelanjutan walaupun berdampak pada masalah sosial atau interpersonal yang muncul berulang kali atau terus-menerus, yang disebabkan atau diperparah oleh efek zat; (7) Aktivitas-aktivitas rekreasional, sosial, dan pekerjaan penting terpaksa dilepaskan atau dikurangi akibat penggunaan zat; (8) Adanya penggunaan zat dalam situasi yang secara fisik justru berbahaya; (9) Penggunaan zat tidak berhenti walaupun sudah memiliki pengetahuan mengenai masalah psikologis dan masalah fisik yang muncul berulang kali, yang mungkin disebabkan / diperparah oleh penggunaan zat; (10) Adanya efek tolerance; dan (12) Adanya gejala putus obat / withdrawal.

Kesebelas gejala yang telah dipaparkan sebelumnya muncul ataupun pernah dialami oleh C, kendatipun untuk saat ini C sudah berhasil mempertahankan dosis methadone yang dikonsumsinya sampai pada 70 mL per hari. Terkait dengan keriteria A3, C sendiri mengaku bahwa semasa ia masih rutin cucaw, kegiatan yang langsung ia lakukan ketika bangun di pagi hari tidak lain dan tidak bukan adalah pergi keluar dan mencari putauw untuk mengobati reaksi putus obat yang dialaminya. C menuturkan bahwa ia pergi mencari putauw tanpa peduli bahwa dirinya belum mencuci muka, belum menyikat gigi, belum mandi, dan dengan kondisi baju yang masih berantakan. Apapun yang ada di hadapannya dapat ia jual demi mendapatkan uang untuk membeli putauw, yang paling ia ingat adalah ia pernah menjual gas LPG milik ibunya ketika ibunya tengah memasak.

Saat ini C tidak memiliki pekerjaan apapun selain menjadi bandar kecil ataupun melakukan tindakan kriminal. Ketika ditanya lebih jauh, C mengaku aktivitas sehari-harinya adalah nyimenk (menghisap ganja, red) sekitar 1 – 2 jam setelah meminum methadone, dan menjambret di pasar untuk menambah penghasilannya. Kelekatan asosiasi antara pecandu dengan tindakan kriminal yang biasa mereka lakukan inilah yang seringkali menimbulkan stigma negatif bahwa pecandu itu manipulatif dan pandai menipu. Stigma negatif inilah akhirnya membuat sebagian besar masyarakat memilih untuk menjauhi para pecandu ataupun menganggap bahwa orang yang sudah terjerumus ke dalam lingkaran gelap narkoba tidak layak untuk mendapatkan pertolongan. Padahal apabila ditelusuri lebih jauh, kontribusi lingkungan dalam membentuk perilaku kecanduan pada para pecandu juga memainkan peran yang sangat besar sehingga kita sebagai helping professional tidak bisa terlalu naïf dan menutup mata.

Pendekatan individual yang bersifat directive seperti konseling berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) memang merupakan pendekatan yang paling logis serta mudah dimengerti. Kendatipun demikian, psikolog klinis sejatinya harus mulai berani beranjak dari ranah mikro dengan unit analisis individual menuju ke ranah makro yang juga menekankan pentingnya lingkungan dalam intervensi. Ada berbagai pendekatan yang bisa dan sudah dilakukan, misalnya adalah dengan pendekatan psikodrama, pendekatan kelompok seperti pengembangan teknik sosialisasi dan peniruan tingkah laku, terapi komunitas baik yang berbasis institusi maupun masyarakat, dan masih banyak lagi (Prawitasari, 2011).

Terkait dengan terapi komunitas, petugas penjangkau/ outreach worker yang biasanya merupakan mantan pecandu memegang peranan yang sangat penting sebagai ujung tombak untuk melakukan blusukkan ke tempat-tempat tongkrongan/ hotspot. Mereka bertugas untuk menemukan teman-teman sesama pecandu (baik baru maupun lama), memberikan psikoedukasi, mengajak tes VCT, melakukan assessment awal, menjadi peer support, menukar jarum suntik bekas dengan jarum suntik baru yang masih steril, dan sebagainya. Mengingat kerentanan dan tantangan yang dihadapi oleh para petugas penjangkau (misalnya menghadapi kecurigaan dianggap sebagai “cepu” polisi), tidak heran apabila mereka dianggap sebagai ujung tombak.

Jadi sebagai seorang calon psikolog klinis, tugas yang harus dilunasi adalah membuka jaringan koneksi yang seluas-luasnya tidak hanya terbatas pada tenaga kesehatan saja, tetapi juga kepada sebanyak mungkin pihak yang turut terlibat. Hal ini dapat dilakukan pertama-tama dengan menghilangkan terlebih dahulu “alergi” terhadap para pecandu sebelum berkembang menjadi stigma, dengan memiliki pola pikir bahwa pecandu yang saat ini dihadapi mungkin saja suatu saat dapat berubah menjadi seorang outreach worker dapat turut membantu teman-temannya supaya pulih dari ketergantungan. Selain itu, seiring dengan satuan tugas baru yang belum lama diresmikan oleh Pemprov DKI Jakarta, para psikolog klinis dapat menyumbangkan keahlian dan keterampilannya dengan bergabung menjadi “Pasukan Ungu” ataupun menjalin kerjasama dengan pasukan yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta ini (Purba, 2016).

 

 

Referensi :

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed). Washington DC: APA.

Nugroho, W. D., Sunarto & Firganefi. (2016). Penegakkan Hukum terhadap Tindak Pidana Narkotika yang Dilakukan Polisi (Sudi Wilayah Hukum Polda Lampung). Diakses pada 18 Juli 2017 dari jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/pidana/article/download/758/649.

Prawitasari, J. E. (2011). Psikologi Klinis: Pengantar Terapan Mikro dan Makro. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Purba, D. O. (2016, 21 Oktober). Apa Saja Tugas “Pasukan Ungu?” diakses pada 18 Juli 2017 dari http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/21/19210281/apa.saja.tugas.pasukan. ungu.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Oleh: Indah Wardani

Photo by Robert Zunikoff on Unsplash

Banyak pengguna narkoba yang kita lihat di TV berakhir dipenjara, apakah penjara merupakan tempat yang tepat bagi pengguna? Apakah semua pengguna narkoba itu seorang penjahat yang pantas dipenjara? Kita mungkin sering mendengar narkoba adalah zat yang berbahaya namun kita belum tahu cara kerjanya bagaimana? sehingga narkoba terlihat berbahaya. Narkoba ternyata digunakan dalam dunia kedokteran, tapi banyak orang yang menyalahgunakannya secara ilegal dan membuatnya berdampak buruk bagi dirinya. Kenapa seseorang yang mengidap HIV/AIDS juga sering berkaitan dengan pengguna narkoba? semua informasi dan ketidakjelasan tentang semua itu akhirnya terjawab setelah mengikuti pembekalan Harm Reduction yang diisi oleh teman-teman dari PPH, kios atmajaya, dokter dan narasumber lain yang paham dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.

Setelah mengikuti pembekalan tentang “Harm Reduction” saya jadi mengetahui bahwa tidak seharusnya pengguna narkoba itu dipenjara, saya juga tahu tentang metode-metode apa saja yang digunakan untuk mengatasi HIV/AIDS khususnya yang dialami oleh para pecandu narkoba. Metode tersebut salah satunya adalah program pembagian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi, cara tersebut memang terdengar kontroversional untuk kita yang tidak tahu alasan-alasannya. Sebelumnya, kita akan berfikir kenapa diberi jarum suntik atau kontrasepsi bukannya itu bagian dari fasilitas mereka untuk memakai narkoba dan seks bebas, kenapa program ini seakan menjadi fasilitator mereka untuk tetap menyuntikkan narkoba kedalam tubuh mereka? Hal tersebut pasti akan menimbulkan kontra disebagian banyak orang. Program ini ternyata dikatakan berhasil dalam mengatasi HIV/AIDS pada penasun (pengguna jarum suntik) dalam beberapa tahun terakhir. HIV/AIDS sering ditularkan melalui jarum suntik yang tidak steril karena digunakan bertukaran antar pengguna, dan HIV/AIDS juga bisa ditularkan melalui seks bebas yang tidak aman. Tujuan utama dari program ini adalah memutus hal tersebut, dengan adanya program pemberian jarum suntik steril dan alat kontrasepsi diharapkan dapat menurunkan penderita HIV/AIDS khususnya pada para pengguna narkoba.

Dalam penanganan kasus narkoba lainnya ada juga program yang bernama terapi methadone, terapi ini juga dilakukan untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS dari pengguna narkoba akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril khususnya pada pengguna zat heroin. Methadone adalah obat yang termasuk golongan analgesic narkotika (opiate) dengan fungsi untuk mengobati nyeri berat yang berkelanjutan. Methadone digunakan untuk mengobati ketergantungan pada obat narkotika (seperti heroin) sebagai program terapi yang telah disetujui. Di Jakarta sendiri sudah ada puskesmas-puskesmas yang memberikan layanan terapi methadone diantaranya puskesmas grogol petamburan, puskesmas tambora dan puskesmas tebet. Biaya untuk mengikuti terapi methadone juga tidak begitu mahal hanya sekitar Rp 5000 – 15.000, dan bisa menggunakan BPJS. Harga ini tidak sebanding dengan harga obat illegal seperti ganja, sabu, heroin, dan sebagainya yang memberikan efek hampir sama pada pengguna narkoba. Bedanya, penggunaan methadone pada progam terapi, dosisnya akan dikontrol oleh dokter dan perawat yang menangani sampai pasien benar-benar bebas dari ketergantungan obat.

jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama

Selain itu juga, sudah banyak panti-panti rehabilitasi dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang didirikan untuk menangani dan membantu pengguna narkoba, baik itu milik pemerintah ataupun milik swasta. Salah satu LSM yang membantu dalam menangani HIV/AIDS dan pengguna narkoba  lewat program Harm reduction adalah “Kios Atmajaya”. Disana orang dengan ketergantungan obat akan dibantu untuk sembuh oleh tim kios yang terdiri dari beberapa divisi. Pengguna obat yang ingin sembuh dan datang ke kios akan dibimbing oleh tim sesuai dengan kebutuhan para pengguna. Kebutuhan tersebut akan muncul setelah melalui proses assessment awal sebelum ditentukan pengobatan atau perawatan yang cocok untuk pengguna dengan HIV atau tanpa HIV. Dengan adanya LSM dan panti rehabilitasi untuk para pengguna ketergantungan obat, ini semakin membuka jalan untuk mereka dapat sembuh dan berfungsi lagi seperti biasa. Meski label “pengguna”, “pemakai”, “Kriminal”, “Pecandu” dan sebagainya sulit hilang setelah mereka sembuh dan jangan sampai stigma masyarakat yang negatif ini merusak program-progam yang sudah dijalankan dan mengembalikan mereka ke lubang yang sama.

Sudah banyak program-program pemerintah yang dikeluarkan untuk menangani narkoba di Indonesia, dan kasus ini masih juga menjadi PR untuk pemerintah Indonesia. Kasus narkoba merupakan kasus yang rumit untuk ditangani, karena narkoba jika digunakan bebas akan sangat buruk bagi tubuh dan jika sudah mengganggu tubuh maka dampak negatif yang lain akan mengikuti. Sangat sayang sekali banyak dari generasi muda kita khususnya dikota-kota besar yang bermain-main dengan zat adiktif ini. Mereka yang sudah menjalani hidup dengan ketergantungan obat seakan hidupnya hanya disitu-situ saja, seperti orang yang berada dalam lubang dan susah untuk keluar. Kita sebagai orang awam yang melihat mungkin geram dan akan dengan mudahnya memberi label negatif kepada mereka. Tapi daripada berfikir negatif, lebih baik kita berfikir bersama mencari cara untuk mengulurkan tali pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Sebagai calon psikolog klinis dewasa dan calon praktisi, kasus-kasus narkoba yang terjadi di Indonesia tentu akan menjadi PR tersendiri untuk kita. Kita bisa masuk dan membantu sesuai bidang kita, seperti membantu dalam program terapi psikologi dan atau membuat program pencegahan maupun pengobatan yang dibutuhkan. Dikarenakan hal ini terjadi bukan hanya karena satu hal namun banyak hal yang dapat menjadi pemicu kenapa seseorang dapat menyalahgunakan obat. Sehingga perlu adanya integrasi dari berbagai bidang untuk mengatasi masalah–masalah kesehatan maupun sosial yang disebabkan narkoba dan diharapkan kasus ini dapat semakin berkurang dan tuntas. Lingkungan dan diri sendiri sering dikatakan adalah faktor penentu awal seseorang dapat masuk ke jurang narkoba.

Kita mungkin memiliki adik, kakak, dan atau orang dekat lainnya yang bisa saja menjadi korban selanjutnya dari narkoba dan kita tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin saja mereka belum tahu resiko yang harus diterima jika menggunakan narkoba, akan sangat bermakna jika kita bisa mencegah hal tersebut terjadi dilingkungan keluarga dengan cara memberitahu bahaya narkoba. Bayangkan jika selalu ada 1 orang seperti itu di tiap keluarga indonesia, 1 orang yang dapat menjaga anggota keluarganya dari narkoba, ini pasti akan sangat membantu dalam pencegahan narkoba. Mungkin ini bukan sesuatu yang besar yang dapat kita berikan untuk menanggulangi narkoba tapi apa salahnya kalau kita menyelamatkan orang-orang disekitar kita terlebih dahulu daripada tidak sama sekali dan semua itu menjadi terlambat dan kita menyesal karena terlalu tidak peduli.

 

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Oleh : Luh Kadek Diah Paramitha Wulandari

Narkoba merupakan bahan kimia yang dapat mengubah mood dan perilaku seseorang ketika dihisap, disuntikkan, diminum, dihirup, atau ditelan dalam bentuk pil. Narkoba (Narkotika dan Obat terlarang) dapat juga disebut sebagai NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA semisal ganja, sabu, MDMA/ ekstasi, putau, mushroom, pil koplo, dan kokain,  merupakan permasalahan yang sudah ada sejak lama dan sampai sekarang belum juga terselesaikan di Indonesia. Banyaknya pengguna NAPZA di Indonesia khususnya di Jakarta menjadi tolak ukur bahwa penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk sekedar penyelesaian sementara dari  permasalahan hidup yang dihadapi walaupun dapat berujung addiction (ketergantungan) hingga dapat menyebabkan kematian. Hal ini berhubungan dengan efek yang didapatkan ketika menggunakan zat tersebut seperti rasa senang, tidak cemas , rileks, merasa dunia itu indah, lebih terjaga, mudah fokus dan tidak merasa lelah. Disisi lain bisnis yang terjadi dalam proses jual-beli narkoba ini juga menggiurkan imbalannya sehingga tak jarang dijadikan juga oleh seseorang sebagai jalan pintas untuk mencari uang yang berkontribusi dalam pengedarannya barang terlarang tersebut. Akan tetapi imbalan yang diterima tidak sebanding dengan dampak yang terjadi di masyarakat sebab penggunaan barang terlarang ini merupakan salah satu mata rantai penyambung laju epidemi HIV/AIDS terutama melalui penggunaan NAPZA suntik (penasun) seperti pengguna heroin / putauw (junkie) yang tak jarang menggunakan jarum suntik walaupun sudah tidak steril secara massal (bersama-sama).

Selama diadakannya pembekalan HARM REDUCTION terhitung mulai dari tanggal 10 s/d 12 Juli 2017 oleh Tim PPH Unika Atmajaya merupakan suatu momentum tersendiri dalam rangka meningkatkan kesadaran bagi masyarakat pada umumnya dan civitas akademika pada khususnya,  seperti yang saya rasakan sebagai calon psikolog klinis untuk dapat mengenal konsep HARM REDUCTION dalam pelayanan kesehatan bagi pengguna NAPZA khususnya NAPZA suntik (penasun), memahami permasalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA dan permasalahan HIV/AIDS dalam konteks psikologi maupun disiplin ilmu lainnya, memahami terapi yang digunakan dalam penanganan NAPZA dan HIV/AIDS, memahami tentang layanan kesehatan untuk penanggulangan AIDS pada kelompok pengguna NAPZA, dan memahami kegiatan lapangan untuk mempromosikan status psikososial dan kesehatan pengguna NAPZA yang lebih baik.

Hal yang paling berat dihadapi oleh junkie adalah stigma masyarakat. Stigma yang telah melekat dan diterima oleh para pengguna NAPZA terutama pengguna NAPZA suntik (penasun) sangatlah buruk, terlebih sampai dianggap sebagai “sampah masyarakat” yang mempunyai masa depan suram dan membawa pengaruh buruk bagi orang-orang disekitarnya. Padahal mereka juga merupakan individu yang ingin  memperbaiki diri dan berkembang menjadi orang-orang yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Ingin dihargai sebagai bagian dari kelompok masyarakat (walaupun beberapa dari mereka sadar sedari awal mereka tidak dapat menghargai diri mereka sendiri), ingin hidup seperti orang yang “ normal” (mempunyai pekerjaan, keluarga yang harmonis, ada tempat untuk pulang kembali). Banyak orang beranggapan bahwa para pengguna NAPZA berasal dari keluarga yang broken-home, yang  menerima didikan orang tua yang tidak adekuat, padahal tidak seluruhnya benar dan tidak juga seluruhnya salah seperti adanya yang terjadi dilapangan. Ketika diadakan penelusuran lebih dalam ada berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA misalnya  saja seorang anak yang hidup dalam lingkungan keluarga yang harmonis dapat saja terjerumus ke dalam penyalahgunaan NAPZA kemungkinan disebabkan oleh perilaku coba-coba agar dapat diterima oleh lingkungan sosialnya dengan menunjukkan eksistensinya sehingga dapat dianggap sebagai “anak popular”, “keren” dan “berani”. Ada juga  individu yang sedari masa kecilnya  memang sudah terpapar oleh perilaku orang tua yang alkoholik yang tidak dapat  terprediksi dan disfungsi sehingga menciptakan ketegangan dan rasa tidak aman sehingga ketika kelak terpapar oleh masalah yang menimbulkan ketegangan (stress) maka tidak menutup kemungkinan akan menunjukkan pola penggunaan dan penyalahgunaan zat alkohol sama seperti role model-nya terdahulu yaitu orang tua untuk menghilangkan rasa tegang itu (Halgin dan Whitbourne,2013). Oleh karena itu penyalahgunaan NAPZA tak hanya dapat dipandang dari satu sudut pandang saja, banyak faktor yang berperan dalam hal tersebut yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan juga faktor sosial-kultural.

Sebenarnya melalui pembekalan HARM REDUCTION  saya sebagai calon psikolog klinis dapat lebih memahami bahwa penggunaan zat dalam batas yang wajar dan sesuai dengan kebutuhan tidak termasuk dalam kategori penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, semisalkan penggunaan morphine untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi, untuk mengurangi rasa nyeri yang sangat menyakitkan dialami oleh pasien kanker dokter memberikan morphin, untuk pasien dengan gangguan tidur dokter meresepkan obat tidur yang bersifat sedatif, untuk pasien dengan gangguan cemas dokter meresepkan obat anxiolytic (anti cemas), asalkan dikonsumsi dengan dosis yang tepat dan sesuai dengan  dan dibawah pengawasan dokter yang menangani maka hal tersebut tidak menjadi masalah, berbeda dengan  yang disebut oleh penyalahgunaan zat, yaitu suatu kondisi dimana individu mengalami :

  1. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban utama dalam pekerjaan, sekolah maupun rumah.
  2. Penggunaan zat dilakukan secara berulang dalam situasi yang berbahaya secara fisik.
  3. Terjadinya permasalahan hukum yang berhubungan dengan penggunaan zat berulang.
  4. Tetap digunakannya zat meskipun masalah sosial maupun interpersonal yang menetap karena memakainya.

 

Seperti yang dikemukakan oleh Halgin & Whitbourne (2013), pada umumnya kehidupan seseorang yang menyalahgunakan zat dicirikan dengan masalah interpersonal. Selama masa intoksikasi (kondisi peralihan yang timbul  akibat menggunakan NAPZA sehingga terjadi gangguan kesadaran, gangguan fungsi kognitif, persepsi afek, perilaku atau fungsi dan respon psikofiologis lainnya), orang tersebut menjadi argumentatif dan mungkin melakukan kekerasan pada keluarga ataupun orang sekitarnya, bahkan saat mereka tenang hubungan yang dibina biasanya tegang dan tidak bahagia selain itu  aspek utama dari penyalahgunaan zat adalah pola perilaku ketika seseorang meneruskan penggunaan zat tersebut bahkan ketika sudah sangat jelas beberapa perilakunya menciptakan masalah-masalah yang signifikan dalam kehidupannya hingga menyebabkan ketergantungan zat yaitu pola maladaptive dari  penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan gejala-gejala hendaya kognitif, perilaku dan psikologis.

Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”

Oleh sebab itu diperlukannya bantuan dari kerjasama multidisiplin ilmu seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan masyarakat untuk dapat menangani permasalahan penyalahgunaan zat ini.  Untuk itulah salah satu hal yang menjadi penekanan pada pembekalan HARM REDUCTION yang diberikan selama tiga itu adalah pengenalan layanan jarum suntik steril (LJSS) dan terapi substistusi metadon bagi pengguna heroin/putau selain itu juga teknik CBT untuk pengguna NAPZA yaitu BDRRC. Menurut saya dengan dibekalinya seorang calon psikolog klinis dengan pengetahuan lebih dalam mengenai cara penanganan NAPZA dan pengetahuan dasar mengenai NAPZA itu sendiri maka dapat semakin mengasah kepekaan klinis dan juga empati yang selalu terus-menerus dilatih sehingga kedepannya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang setimpal dengan apa yang telah dipelajari dan di praktikkan. Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”, sekaligus juga memberikan pengertian pada masyarakat awam khususnya mengenai etiologi penyalahgunaan NAPZA itu sendiri untuk mengurangi stigma yang sudah melekat pada penggunna NAPZA.

 

DAFTAR PUSTAKA

Halgin, R.P, Whitbourne, S.K. (2013). Abnormal Psychology : Clinical Perspectives on Psychological Disorder 7th Ed. New York : McGraw-Hill Education

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Oleh Zia Majiatul Arobiah

Selama proses kuliah pembekalan harm reduction berlangsung banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan, baik terkait penyalahgunaan Narkoba, istilah-istilah yang digunakan dalam proses pengobatan dan pencegahan Narkoba. Selain itu, kita juga bisa lebih memahami bahaya Narkoba terhadap penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C, serta teori dan intervensi yang bisa digunakan dalam menangani kasus Narkoba. Selain itu, kita juga mampu memahami bagaimana proses Narkoba dapat mempengaruhi otak kita sehingga bisa menjadi ketergantungan, dan mempengaruhi cara orang dalam berfikir merasa dan berperilaku.

Narkoba atau NAPZA atau zat adiktif menurut WHO 1982, merupakan semua jenis zat (kecuali oksigen dan air) yang jika masuk ke dalam tubuh dapat mempengaruhi cara orang berfikir, merasa dan berperilaku. Sedangkan, menurut Badan Narkotika Nasional, dengan berdasar pada Undang-Undang Narkotika (UU no 22 tahun 1997) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Saat ini penyalahgunaan Narkoba atau NAPZA sudah menjadi perhatian penting pemerintah dan masyarakat Indonesia. Informasi atas masalah gangguan penggunaan Narkoba menjadi jauh lebih terbuka. Pendirian Badan Koordinasi Narkotika Nasional yang awalnya hanya memiliki fungsi koordinatif kemudian menjadi fungsi implementatif yaitu Badan Narkotika Nasional. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pengguna Narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Kurang lebih 22 % dari total pengguna Narkoba tersebut adalah anak dan remaja usia sekolah. Dari survei BNN dan Puslitkes UI yang terakhir (2014) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan Narkoba di tahun 2014 pada penduduk Indonesia usia 10 – 64 tahun adalah 2.18%, turun 0.02% dari prevalensi tahun 2011.

Ada beberapa banyak jenis-jenis Narkoba berikut jenis dan gejalanya (Eleanora, 2011):

  • Opium (Heroin, Morfin) dengan gejala perasaan tenang dan bahagia, apatis, malas bergerak, mengantuk, rasa mual dan gangguan perhatian.
  • Ganja dengan gejala rasa senang dan santai, mata merah, mulut kering, nafsu makan meningkat, kurang konsentrasi dan sering mengantuk.
  • Shabu dengan gejala kewaspadaan meningkat, bergairah, rasa senang dan bahagia, denyut nadi dan tekanan darah meningkat susah tidur dan hilangnya nafsu makan.
  • Kokain dengan gejala gelisah, denyut nadi meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, tekanan darah meningkat, berkeringat, kekakuan otot leher, mudah berkelahi.

Gejala di atas terjadi karena penggunaan Narkoba memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis. Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya. Neurotransmiter juga dapat mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku dan emosi bahkan cara berpikir. Narkoba yang masuk ke dalam tubuh melalui darah menuju otak akan mempengaruhi keseimbanganan neurotransmiter tersebut sesuai jenis-jenisnya.

Bagaimana Narkoba dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C? Penularan penyakit tersebut bisa disebabkan akibat adanya pertukaran jarum suntik yang tidak steril. Pemakaian alat suntik secara bergantian sangat umum terjadi di kalangan Penasun (Pengguna Napza Suntik). Jika salah satunya terinfeksi HIV, dia dapat menularkan virus ini kepada siapapun yang memakai peralatan suntik bergantian bersamanya.  Penggunaan alat bergantian juga menularkan virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan penyakit lain. Darah yang terinfeksi terdapat pada semprit (insul) kemudian disuntikkan bersama dengan Narkoba saat pengguna berikutnya memakai semprit tersebut. Ini adalah cara termudah untuk menularkan HIV karena darah yang terinfeksi langsung dimasukkan pada aliran darah orang lain.

Bagaimana dengan penularan HIV/AIDS pada pengguna Narkoba oral? Seperti yang dijelaskan di atas bahwa penggunaan Narkoba dapat mempengaruhi otak sehingga pengguna akan mengalami ketidaksadaran saat berhubungan intim tanpa menggunakan pengaman (kondom) hal ini juga dapat mempengaruhi penularan HIV/AIDS . Itu sebabnya pentingnya beberapa pendekatan dalam menangani masalah tersebut dengan mengembangkan program harm reduction, salah satunya adalah dengan layanan alat suntik steril, pembagian kondom dan program terapi rumatan metadon (PTRM).

Mengapa orang bisa menggunakan Narkoba? Ada beberapa faktor mengapa orang menggunakan Narkoba salah satunya adalah masalah keluarga, pengaruh teman sebaya, kesehatan mental secara keseluruhan dan riwayat candu keluarga. Hal tersebut didukung dengan penemuan penulis di lapangan di salah satu puskesmas di jakarta bahwa dari keempat alasan di atas faktor yang sangat besar mempengaruhi seseorang menggunakan Narkoba adalah adanya masalah dalam keluarga “perceraian orang tua” dan “pengaruh teman sebaya”. Maka yang terpenting adalah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa alasan orang tersebut mengkonsumsi Narkoba? Apa pemicu utama yang menyebabkan hal tersebut terjadi?.

Selain dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan di atas kita juga harus memahami terlebih dahulu bahwa kepribadian orang adiksi itu ada 3 yaitu: harm avoidant: menghindari rasa sakit atau tidak enak dengan cara memilih obat untuk menghilangkannya, reward dependant: mendapatkan reward atau hadiah seperti kepuasan dalam diri saat menggunakan obat-obatan (meningkatkan mood), novelty seeking: perasaan ingin tau yang besar dan ingin mencari sesuatu yang baru dan berbeda.

Ada beberapa teori psikologi yang dapat menjelasakan adiksi dalam diri seseorang, menurut psikoanalisis semua perilaku adiktif karena adanya fiksasi di masa oral. Berbeda dengan psikoanalisis bahwa model psikososial menjelaskan adicted behavior adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan menjadi suatu habit “bad habit” model psikososial percaya bahwa perilaku tersebut bisa diubah dari bad habit menjadi good habit dengan menggunakan pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT). Selain cognitive behavior therapy (CBT) ada beberapa banyak intervensi yang diajarkan selama mengikuti kuliah pembekalan harm reduction, behavioral drug risk reduction counseling (BDRRC), terapi komunitas NAPZA berbasis institusi, methadone therapy termasuk salah satunya adalah harm reduction. Semua terapi tersebut sangat bermanfaat dalam mengurangi dampak buruk dari penyalahgunaan Narkoba.

Harm reduction adalah pendekatan yang pragmatis dan humanisti untuk mengurangi kerusakan secara individu maupun sosial, terutama yang berkaitan dengan penggunaan Narkoba dan zat psikotropika, khususnya untuk menekan resiko penularan HIV. Harm reduction merupakan suatu upaya pengurangan dampak buruk terhadap pengguna Napza dan masyarakat luas. Harm reduction menyadari realita dari pengguna Napza bahwa beberapa pengguna Napza sulit untuk menghentikan ketergantungan terhadap obat, meskipun mereka menyadari bahwa resiko yang terjadi berupa HIV/AIDS dan virus lain yang ditularkan lewat darah (Kim, Brannstrom, Worrall, 2014).

Fokus harm reduction untuk menahan serta mengurangi ketergantungan Narkoba dan mengurangi penyebaran HIV dikalangan Penasun maka harm reduction berfokus pada pengurangan dampak buruk. Pengurangan dampak buruk NAPZA dapat dipandang sebagai upaya pencegahan terhadap dampak buruk NAPZA tanpa mengurangi jumlah penggunaanya, dengan menekankan perubahan pada praktik yang lebih aman terhadap penggunaan Narkoba. Dengan kata lain harm reduction lebih mengutamakan pencegahan dampak buruk NAPZA dan bukan pencegahan penggunaan NAPZA (Edmonton, 2007).

Salah satu kegiatan harm reduction memiliki hierarki sarana sebagai berikut untuk mencapai tujuan khusus:

  • Penasun didorong untuk berhenti memakai Narkoba
  • Jika Penasun bersikeras untuk memakai Narkoba, maka ia didorong untuk berhenti memakai cara menyuntik
  • Jika Penasun bersikeras dengan cara menyuntik, maka ia didorong dan dipastikan tidak memakai atau berbagi peralatan suntiknya secara bergantian dengan pengguna lain.
  • Jika tetap terjadi penggunaan bergantian, maka Penasun didorong dan dilath untuk menyucihamakan peralatan suntiknya.

Beberapa kebijakan terkait dengan program Harm Reduction di Indonesia (Suharni, 2015) antara lain adalah;

  1. Kepmenkes No. 494/Menkes/SK/VII/2006 tetang penetapan Rumah Sakit dan Satelit Uji coba Serta Pedoman Pogram Terapi Rumatan Metadon.
  2. Peraturan Menko Kesra No.2/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.
  3. Kepmenkes No. 486/Menkes/SKIV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategi Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA.
  4. Kepmenkes No. 420/Menkes/SK/III/2010 tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabililitasi Komprehensif pada Gangguan Pengguna NAPZA berbasis Rumah Sakit.
  5. Kepmenkes No. 421/Menkes/SK/III/2010 tentang Standar Pelayanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA.
  6. Kepmenkes No. 350/Menkes/SK/IV/ tentang penetapan rumah sakit pengampu dan satelit program terapi rumatan metadon serta pedoman program terapi rumatan metadon.
  7. Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/IV/2008 tentang pelayananan rehabilitasi medik di rumah sakit.
  8. Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VII/ tetang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropik dan Zat Adiktif (NAPZA);
  9. Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika
  10.  Keputusan Menteri Kesehatan No 1305 tahun 2011 tentang Instusi penerima Wajib Lapor
  11. Keputusan Menteri kesehatan No 2171 tahun 2011 tentang Tatacara Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika tahun 2011
  12. Surat Edaran Mahkama Agung No 7 Tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai Narkoba Ke dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi.

 

Pendekatan Harm Reduction  khususnya untuk para pecandu menawarkan suatu langkah yang lebih mendorong proses rehabilitasi dan pencegahan sebagai bagian dari pendekatan berbasis kesehatan masyarakat melalui pendekatan bertahap untuk mengurangi dampak secara lebih terukur sesuai dengan kondisi. Perlu sebuah paradigma alternatif yang lebih bisa merasakan (empati).

Manfaat yang didapatkan selama kuliah pembekalan harm reduction yaitu bertambahnya pengetahuan terkait teori-teori yang dapat diaplikasikan dalam penanganan Narkoba, keterampilan dalam berkomunikasi dengan para junkies (sebutan yang biasa digunakan untuk para pengguna) secara langsung dan melatih empati. Selain itu, perubahan sikap dan cara pandang penulis terhadap proses pengobatan yang dilakukan pada para junkies yang awalnya kaku menjadi lebih fleksible dan semakin mendukung pada pelaksanaan program harm reduction.

memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial

Selama perkuliahan dan proses terjun kelapangan penulis mendapatkan beberapa banyak inspirasi salah satunya adalah dalam memahami individu harus secara menyeluruh dengan memperhatikan beberapa aspek baik biologis, psikologis dan juga sosial (biopsikososial). Salah satu yang harus diperhatikan juga adalah pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan para junkies. Selain itu, penting juga untuk mensosialisasikan tentang harm reduction dan bahaya Narkoba pada orang disekitar dengan dimulai dari orang yang terdekat. Penting juga untuk menjaga kesehatan dengan cara cek VCT, IMS dll. Dan terpenting adalah menjaga diri kita dan orang-orang terdekat untuk tidak menyentuh Narkoba sama sekali.

 

 

Daftar Pustaka

Badan Narkotika Nasional (BNN). 2015. Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta.

BNN & Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia. 2014. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Edmonton, A, B. (2007). Working with People who use Drugs: A Harm Reduction Approach. Canadian Liver Foundation: Needle use Initiative.

Eleanora, N, F. (2011). Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (Suatu Tinjauan Teoritis). Journal Hukum: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. Vol. XXV (1), 439-452.

Kim, W, S. Brannstrom, P, M, A.Worral, S, J (2007). Comparing the Cost Effectiveness of Harm Reduction Strategies: A Case Study of Ukrina. Cost Effectiveness and Resource Allocation, 25: 12-25.

Sarasvita, R. (2017). Cognitive Behavior Therapy, Behavioral Drug Risk Reduction Counseling & Gangguan Penggunaan Napza: Pengetahuan Dasar. Presentasi Pembekalan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa Universitas Atma Jaya.

Suharni, M. (2015). Pendekatan Penanggulangan Narkoba dan Kebijakan Harm Reduction. Kebijakan AIDS Indonesia.

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya. Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan