Apa itu Harm Reduction?

Apa itu Harm Reduction?

Oleh: Yanuar Wilda

But next time I won’t be so stupid, except there won’t be any next time! I will never ever, ever, under any circumstances use drugs again. They are the root and cause of this whole rotten, stinking mess I am in, and I wish with all my heart and soul that I had never heard of them (Anymous, 2004)

Kalimat tersebut ditulis oleh seorang remaja berusia lima belas tahun (anonim) dalam buku hariannya (diary) ketika menghadapi masalah berat kecanduan Narkoba dan seks bebas. Buku harian tersebut kemudian diterbitkan oleh Simon & Schuster Inc. pada tahun 1998 dengan judul Go Ask Alice. Tulisan tersebut mengingatkan kita betapa peliknya perjuangan sesorang yang ingin keluar dari penyalahgunaan dan ketergantungan Narkoba. Di Indonesia sendiri kasus penggunaan Narkoba cukup memprihatinkan. Sebuah surat kabar menulis bahwa jumlah jumlah pengguna Narkoba atau Narkotika atau Zat adiktif (semua sebutan tersebut merujuk pada hal yang sama) di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang (Rachmawati, 2016) dan 2,8 persen dari total tersebut (sekitar 14 ribu jiwa) merupakan individu dengan rentang usia 12-21 tahun (Indriani, 2016). read more

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Program Positif Bagi Drug User, Sebuah Refleksi Mengenai Harm Reduction

Oleh: Luthfi Mardhiansyah

Refleksi saya dalam mengikuti mata kuliah harm reduction adalah saya dipaparkan tentang jenis-jenis obat narkotika. Satu hal yang menarik adalah narkotika jenis terbaru yakni “NPS” New Psychoactive Substance yakni narkotika jenis terbaru seperti Flaka,metilon dan juga narkotika yang berbentuk sintetis yang bisa menyebabkan halusinogenik. Pada pelajaran lain yang telah didapat adalah epidemology, epidemology yakni ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit, bagaimana saat jarum suntik itu berganti-ganti dari satu individu ke individu lain bisa menularkan penyakit HIV. Selain itu penyebaran HIV bisa melalui free sex dan kemungkinan untuk sakit hepatitis juga besar,  saya juga berusaha untuk memahami bagaimana sulitnya dinamika kehidupan drug user dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Jika sudah terkena narkoba terlebih sampai jarum suntik, selama hidupnya hanya mencari dan menggunakan narkoba, apapun yang terjadi pada dirinya “barang” tersebut harus didapatkan. Drug user tidak bisa melakukan aktivitas yang  normal seperti pada orang umumnya, maka dari itu banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari zat tersebut. Saya juga diajarkan bagaimana pengaruh dunia farmasi pada drug users. Dari berbagai ilmu yang telah pembicara jelaskan bahwa ada terapi obat yang bisa digunakan seperti Metadon & Suboxone untuk menggantikan obat-obatan yang sering drug user gunakan. Akan tetapi efek dari Metadon & Subuxone tidak terlalu optimal seperti narkotika yang sehari-hari mereka gunakan. Dari kursus Harm Reduction yang telah saya dapat selama 3 hari, bagaimana treatment  psikologis CBT/BDRRC, yakni treatment untuk mengubah perilaku pada drug user.  Terapi ini lebih menekankan pada perilaku drug user untuk kembali ke aktivitas sehari-hari, memberikan jadwal yang rutin yang harus dilakukan pada pengguna untuk kembali melakukan aktivitasnya. Lalu jika drug user terlihat sudah pulih, psikolog harus menanyakan jika sudah keluar dari treatment apa yang akan dilakukan, jika ingin kerja, kerja apa? Kejar terus pertanyaan tersebut hingga jelas tujuanya agar tidak kembali ke narkotika. read more

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Berbicara Tentang Program Terapi Rumatan Metadon

Oleh: Angellia Lestari Christiani

Pusat Penelitian HIV/ AIDS Atma Jaya (PPH) telah secara rutin mengadakan Harm Reduction Workshop bagi mahasiswa magister psikologi profesi klinis dewasa. Salah satu tujuan dari adanya kursus ini adalah untuk mengenalkan konsep harm reduction kepada kami para mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa klinis dewasa menyadari kurangnya pemahaman mengenai pemarsalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA terutama dalam konteks psikologi. Oleh karena itu, kali ini saya hendak berbagi mengenai tiga hari yang saya lalui dalam kursus ini. read more

Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Sebagai Calon Psikolog Klinis Saya Harus Berkontribusi

Oleh Frisca Melissa Iskandar T.

Selama tiga hari saya mengikuti kursus Harm Reduction sebagai pembekalan dan prasyarat untuk dapat masuk ke Semester-3 Magister Profesi Psikologi Klinis, yang dimana pada periode tersebut saya akan terpapar pada kasus-kasus, salah satunya yang terkait dengan Napza/ penasun/ HIV-AIDS. Walaupun waktu kursus yang diberikan relatif singkat, namun materi yang diberikan cukup intens dan padat. Oleh karena itu, setelah mengikuti kursus Harm Reduction saya mendapatkan beberapa manfaat yang dapat berguna bagi saya sebagai calon Psikolog Klinis. Manfaat-manfaat tersebut meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan personalinsight. read more

Ngapain lo ambil klinis?

Ngapain lo ambil klinis?

oleh: Arnold Lukito

qualitative researchPertanyaan yang sering sekali saya temui ketika rekan-rekan sejawat saya tahu saya mengambil program Magister Psikologi Profesi Klinis Dewasa. Pertanyaan yang juga seringkali saya respon hanya dengan menyengir, tergantung seberapa dekat saya dengan orang itu. Pertanyaan yang kadang membuat saya malas menjawabnya, terlebih kalau diajukan dengan nada tidak percaya.

Banyak alasan orang menanyakan hal itu. Alasan yang paling sering, dan ironisnya paling tidak saya sukai, adalah karena saya mengambil peminatan Psikologi Sosial ketika saya berkuliah di S1. Sejak dulu saya paling menentang pengkotak-kotakan ilmu. Apalagi kalau ilmu yang sama hanya beda peminatan seperti yang saya alami. Justru saya merasa sangat beruntung sempat terpapar pada hal-hal yang diajarkan di kelas peminatan Psikologi Sosial, karena sangat memperkaya dan justru menjadi inventori pengetahuan yang berharga dalam mendalami Psikologi Klinis saat ini. read more

Berdamai dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan Diri Sendiri

Oleh Jessica Wilhelmina A 

Penyalahgunaan narkoba baik di Indonesia maupun internasional sudah terjadi dalam waktu yang lama. Narkoba hadir sebagai “sarana rekreasi” bagi para penggunanya yang berasal dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Pada awalnya, pengguna umumnya tidak benar-benar mengetahui dampak dari penyalahgunaan obat tersebut. Mereka hanya menikmati efek obat yang dikonsumsinya dan tanpa disadari membuat mereka terus menggunakannya secara berulang hingga menjadi kecanduan. read more

Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Mustahil Sendirian Keluar dari “Jeruji Penjara” yang Dibangun Sendiri

Oleh Devina Wicaksana

Wah, kalo lagi pedaw (efek teler setelah menggunakan zat heroin, red) mah rasanya enak banget mbak, beban pikiran, stres, apa juga hilang aja, kayak udah nggak punya masalah apa-apa lagi. Damai mbak, udah nggak mikirin apa-apa lagi. Badan rasanya enak, sakit apa juga hilang semua, jadi ngantuk…

demikian ujar C mengenai sensasi kenikmatan yang ia alami semasa ia masih aktif menggunakan putauw (heroin). C merupakan narasumber wanita yang bersedia penulis temui selepas mengikuti Program Terapi Rumatan Methadone (PTRM) di Puskesmas Grogol Petamburan pada hari Rabu, 12 Juli 2017 yang lalu. read more

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Ancaman Narkoba, PR Kita Bersama!

Oleh: Indah Wardani

Photo by Robert Zunikoff on Unsplash

Banyak pengguna narkoba yang kita lihat di TV berakhir dipenjara, apakah penjara merupakan tempat yang tepat bagi pengguna? Apakah semua pengguna narkoba itu seorang penjahat yang pantas dipenjara? Kita mungkin sering mendengar narkoba adalah zat yang berbahaya namun kita belum tahu cara kerjanya bagaimana? sehingga narkoba terlihat berbahaya. Narkoba ternyata digunakan dalam dunia kedokteran, tapi banyak orang yang menyalahgunakannya secara ilegal dan membuatnya berdampak buruk bagi dirinya. Kenapa seseorang yang mengidap HIV/AIDS juga sering berkaitan dengan pengguna narkoba? semua informasi dan ketidakjelasan tentang semua itu akhirnya terjawab setelah mengikuti pembekalan Harm Reduction yang diisi oleh teman-teman dari PPH, kios atmajaya, dokter dan narasumber lain yang paham dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba. read more

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Oleh : Luh Kadek Diah Paramitha Wulandari

Narkoba merupakan bahan kimia yang dapat mengubah mood dan perilaku seseorang ketika dihisap, disuntikkan, diminum, dihirup, atau ditelan dalam bentuk pil. Narkoba (Narkotika dan Obat terlarang) dapat juga disebut sebagai NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA semisal ganja, sabu, MDMA/ ekstasi, putau, mushroom, pil koplo, dan kokain,  merupakan permasalahan yang sudah ada sejak lama dan sampai sekarang belum juga terselesaikan di Indonesia. Banyaknya pengguna NAPZA di Indonesia khususnya di Jakarta menjadi tolak ukur bahwa penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk sekedar penyelesaian sementara dari  permasalahan hidup yang dihadapi walaupun dapat berujung addiction (ketergantungan) hingga dapat menyebabkan kematian. Hal ini berhubungan dengan efek yang didapatkan ketika menggunakan zat tersebut seperti rasa senang, tidak cemas , rileks, merasa dunia itu indah, lebih terjaga, mudah fokus dan tidak merasa lelah. Disisi lain bisnis yang terjadi dalam proses jual-beli narkoba ini juga menggiurkan imbalannya sehingga tak jarang dijadikan juga oleh seseorang sebagai jalan pintas untuk mencari uang yang berkontribusi dalam pengedarannya barang terlarang tersebut. Akan tetapi imbalan yang diterima tidak sebanding dengan dampak yang terjadi di masyarakat sebab penggunaan barang terlarang ini merupakan salah satu mata rantai penyambung laju epidemi HIV/AIDS terutama melalui penggunaan NAPZA suntik (penasun) seperti pengguna heroin / putauw (junkie) yang tak jarang menggunakan jarum suntik walaupun sudah tidak steril secara massal (bersama-sama). read more

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Pendekatan Harm Reduction untuk Para Pecandu

Oleh Zia Majiatul Arobiah

Selama proses kuliah pembekalan harm reduction berlangsung banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan, baik terkait penyalahgunaan Narkoba, istilah-istilah yang digunakan dalam proses pengobatan dan pencegahan Narkoba. Selain itu, kita juga bisa lebih memahami bahaya Narkoba terhadap penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan hepatitis B dan C, serta teori dan intervensi yang bisa digunakan dalam menangani kasus Narkoba. Selain itu, kita juga mampu memahami bagaimana proses Narkoba dapat mempengaruhi otak kita sehingga bisa menjadi ketergantungan, dan mempengaruhi cara orang dalam berfikir merasa dan berperilaku. read more