Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Tiga Hari Yang Membuka Mata Hati

Oleh : Luh Kadek Diah Paramitha Wulandari

Narkoba merupakan bahan kimia yang dapat mengubah mood dan perilaku seseorang ketika dihisap, disuntikkan, diminum, dihirup, atau ditelan dalam bentuk pil. Narkoba (Narkotika dan Obat terlarang) dapat juga disebut sebagai NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA semisal ganja, sabu, MDMA/ ekstasi, putau, mushroom, pil koplo, dan kokain,  merupakan permasalahan yang sudah ada sejak lama dan sampai sekarang belum juga terselesaikan di Indonesia. Banyaknya pengguna NAPZA di Indonesia khususnya di Jakarta menjadi tolak ukur bahwa penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk sekedar penyelesaian sementara dari  permasalahan hidup yang dihadapi walaupun dapat berujung addiction (ketergantungan) hingga dapat menyebabkan kematian. Hal ini berhubungan dengan efek yang didapatkan ketika menggunakan zat tersebut seperti rasa senang, tidak cemas , rileks, merasa dunia itu indah, lebih terjaga, mudah fokus dan tidak merasa lelah. Disisi lain bisnis yang terjadi dalam proses jual-beli narkoba ini juga menggiurkan imbalannya sehingga tak jarang dijadikan juga oleh seseorang sebagai jalan pintas untuk mencari uang yang berkontribusi dalam pengedarannya barang terlarang tersebut. Akan tetapi imbalan yang diterima tidak sebanding dengan dampak yang terjadi di masyarakat sebab penggunaan barang terlarang ini merupakan salah satu mata rantai penyambung laju epidemi HIV/AIDS terutama melalui penggunaan NAPZA suntik (penasun) seperti pengguna heroin / putauw (junkie) yang tak jarang menggunakan jarum suntik walaupun sudah tidak steril secara massal (bersama-sama).

Selama diadakannya pembekalan HARM REDUCTION terhitung mulai dari tanggal 10 s/d 12 Juli 2017 oleh Tim PPH Unika Atmajaya merupakan suatu momentum tersendiri dalam rangka meningkatkan kesadaran bagi masyarakat pada umumnya dan civitas akademika pada khususnya,  seperti yang saya rasakan sebagai calon psikolog klinis untuk dapat mengenal konsep HARM REDUCTION dalam pelayanan kesehatan bagi pengguna NAPZA khususnya NAPZA suntik (penasun), memahami permasalahan NAPZA, ketergantungan NAPZA dan permasalahan HIV/AIDS dalam konteks psikologi maupun disiplin ilmu lainnya, memahami terapi yang digunakan dalam penanganan NAPZA dan HIV/AIDS, memahami tentang layanan kesehatan untuk penanggulangan AIDS pada kelompok pengguna NAPZA, dan memahami kegiatan lapangan untuk mempromosikan status psikososial dan kesehatan pengguna NAPZA yang lebih baik.

Hal yang paling berat dihadapi oleh junkie adalah stigma masyarakat. Stigma yang telah melekat dan diterima oleh para pengguna NAPZA terutama pengguna NAPZA suntik (penasun) sangatlah buruk, terlebih sampai dianggap sebagai “sampah masyarakat” yang mempunyai masa depan suram dan membawa pengaruh buruk bagi orang-orang disekitarnya. Padahal mereka juga merupakan individu yang ingin  memperbaiki diri dan berkembang menjadi orang-orang yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Ingin dihargai sebagai bagian dari kelompok masyarakat (walaupun beberapa dari mereka sadar sedari awal mereka tidak dapat menghargai diri mereka sendiri), ingin hidup seperti orang yang “ normal” (mempunyai pekerjaan, keluarga yang harmonis, ada tempat untuk pulang kembali). Banyak orang beranggapan bahwa para pengguna NAPZA berasal dari keluarga yang broken-home, yang  menerima didikan orang tua yang tidak adekuat, padahal tidak seluruhnya benar dan tidak juga seluruhnya salah seperti adanya yang terjadi dilapangan. Ketika diadakan penelusuran lebih dalam ada berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA misalnya  saja seorang anak yang hidup dalam lingkungan keluarga yang harmonis dapat saja terjerumus ke dalam penyalahgunaan NAPZA kemungkinan disebabkan oleh perilaku coba-coba agar dapat diterima oleh lingkungan sosialnya dengan menunjukkan eksistensinya sehingga dapat dianggap sebagai “anak popular”, “keren” dan “berani”. Ada juga  individu yang sedari masa kecilnya  memang sudah terpapar oleh perilaku orang tua yang alkoholik yang tidak dapat  terprediksi dan disfungsi sehingga menciptakan ketegangan dan rasa tidak aman sehingga ketika kelak terpapar oleh masalah yang menimbulkan ketegangan (stress) maka tidak menutup kemungkinan akan menunjukkan pola penggunaan dan penyalahgunaan zat alkohol sama seperti role model-nya terdahulu yaitu orang tua untuk menghilangkan rasa tegang itu (Halgin dan Whitbourne,2013). Oleh karena itu penyalahgunaan NAPZA tak hanya dapat dipandang dari satu sudut pandang saja, banyak faktor yang berperan dalam hal tersebut yaitu faktor biologis, faktor psikologis dan juga faktor sosial-kultural.

Sebenarnya melalui pembekalan HARM REDUCTION  saya sebagai calon psikolog klinis dapat lebih memahami bahwa penggunaan zat dalam batas yang wajar dan sesuai dengan kebutuhan tidak termasuk dalam kategori penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, semisalkan penggunaan morphine untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi, untuk mengurangi rasa nyeri yang sangat menyakitkan dialami oleh pasien kanker dokter memberikan morphin, untuk pasien dengan gangguan tidur dokter meresepkan obat tidur yang bersifat sedatif, untuk pasien dengan gangguan cemas dokter meresepkan obat anxiolytic (anti cemas), asalkan dikonsumsi dengan dosis yang tepat dan sesuai dengan  dan dibawah pengawasan dokter yang menangani maka hal tersebut tidak menjadi masalah, berbeda dengan  yang disebut oleh penyalahgunaan zat, yaitu suatu kondisi dimana individu mengalami :

  1. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban utama dalam pekerjaan, sekolah maupun rumah.
  2. Penggunaan zat dilakukan secara berulang dalam situasi yang berbahaya secara fisik.
  3. Terjadinya permasalahan hukum yang berhubungan dengan penggunaan zat berulang.
  4. Tetap digunakannya zat meskipun masalah sosial maupun interpersonal yang menetap karena memakainya.

 

Seperti yang dikemukakan oleh Halgin & Whitbourne (2013), pada umumnya kehidupan seseorang yang menyalahgunakan zat dicirikan dengan masalah interpersonal. Selama masa intoksikasi (kondisi peralihan yang timbul  akibat menggunakan NAPZA sehingga terjadi gangguan kesadaran, gangguan fungsi kognitif, persepsi afek, perilaku atau fungsi dan respon psikofiologis lainnya), orang tersebut menjadi argumentatif dan mungkin melakukan kekerasan pada keluarga ataupun orang sekitarnya, bahkan saat mereka tenang hubungan yang dibina biasanya tegang dan tidak bahagia selain itu  aspek utama dari penyalahgunaan zat adalah pola perilaku ketika seseorang meneruskan penggunaan zat tersebut bahkan ketika sudah sangat jelas beberapa perilakunya menciptakan masalah-masalah yang signifikan dalam kehidupannya hingga menyebabkan ketergantungan zat yaitu pola maladaptive dari  penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan gejala-gejala hendaya kognitif, perilaku dan psikologis.

Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”

Oleh sebab itu diperlukannya bantuan dari kerjasama multidisiplin ilmu seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan masyarakat untuk dapat menangani permasalahan penyalahgunaan zat ini.  Untuk itulah salah satu hal yang menjadi penekanan pada pembekalan HARM REDUCTION yang diberikan selama tiga itu adalah pengenalan layanan jarum suntik steril (LJSS) dan terapi substistusi metadon bagi pengguna heroin/putau selain itu juga teknik CBT untuk pengguna NAPZA yaitu BDRRC. Menurut saya dengan dibekalinya seorang calon psikolog klinis dengan pengetahuan lebih dalam mengenai cara penanganan NAPZA dan pengetahuan dasar mengenai NAPZA itu sendiri maka dapat semakin mengasah kepekaan klinis dan juga empati yang selalu terus-menerus dilatih sehingga kedepannya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang setimpal dengan apa yang telah dipelajari dan di praktikkan. Saya sebagai calon psikolog klinis berharap dapat membantu para pengguna NAPZA untuk dapat lebih hidup dan berperilaku secara lebih “sehat”, sekaligus juga memberikan pengertian pada masyarakat awam khususnya mengenai etiologi penyalahgunaan NAPZA itu sendiri untuk mengurangi stigma yang sudah melekat pada penggunna NAPZA.

 

DAFTAR PUSTAKA

Halgin, R.P, Whitbourne, S.K. (2013). Abnormal Psychology : Clinical Perspectives on Psychological Disorder 7th Ed. New York : McGraw-Hill Education

 

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah mengikuti kegiatan “Kursus Harm Reduction 2017” oleh Program Magister Fakultas Psikologi Klinis Unika Atma Jaya Dan Pusat Penelitian HIV-AIDS Unika Atma Jaya.  Penulis adalah mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi Unika Atma Jaya.

Artikel mengenai Kursus Harm Reduction 2017 dapat dibaca melalui tautan ini: Mengenalkan Konsep Harm Reduction dalam Pelayanan Kesehatan