Urgensi Kebutuhan akan Layanan Kesehatan Mental untuk Orang dengan HIV & AIDS (ODHA)

oleh Desy Natalia Sagala dan Anindita Gabriella

PESAN POKOK

Gangguan ataupun permasalahan kesehatan mental pada ODHA ini memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap ODHA. Diantaranya adalah sulit untuk meminum ARV tepat waktu (tingkat kepatuhan rendah), sulit untuk menjadi gaya hidup yang sehat (contoh: cukup istirahat, makan yang bergizi, dan menjauhkan perilaku-perilaku berisiko), dan juga dapat menurunkan kemampuan untuk mengatasi tekanan-tekanan sehari-hari. Untuk itu, sangat penting untuk memperhatikan dan menyediakan layanan kesehatan jiwa pada ODHA sebagai strategi untuk peningkatan kualitas hidup ODHA dan juga meningkatkan retensi dan tingkat kepatuhan ODHA pada pengobatan ARV. Beberapa rekomendasi untuk pemberian layanan kesehatan jiwa ini adalah dengan mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa di layanan perawatan dukungan dan pengobatan HIV di fasilitas kesehatan tingkat primer (Puskesmas) dan juga di tingkat lanjut (Rumah Sakit), penyediaan hotline gratis dan bebas pulsa untuk penyediaan informasi dan konseling terkait permasalahan-permasalahan terkait HIV yang anonimus dan tidak perlu tatap muka, task shifting, dan kepastian bahwa BPJS/JKN menanggung segala biaya kesehatan mulai dari preventif dan kuratif ODHA.

PENGANTAR

Sekitar 50% ODHA memiliki permasalahan kesehatan mental (Carvalhal, 2015). Hubungan antara HIV dan gangguan kejiwaan sangat kompleks. Kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan mental pada ODHA khususnya depresi terjadi hampir 2x lipat dibanding dengan penduduk umum lainnya (Jonsson, 2013). Walaupun demikian, gangguan mental pada ODHA sering sekali tidak terdiagnosis dan tidak diatasi secara baik (Jonsson, 2013). Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA adalah salah satu penyebab terbesar tekanan-tekanan yang dihadapi oleh ODHA yang bisa berdampak pada kesehatan jiwa mereka. Contohnya: ketakutan atas stigma juga menjadi penyebab utama mengapa ODHA enggan untuk membuka status HIV mereka yang akhirnya menyebabkan kurangnya dukungan sosial pada mereka (Collins, Holman, Freeman, & Patel, 2006). Kualitas hidup ODHA dipengaruhi oleh kepuasan ODHA terhadap dukungan sosial dan cara mengatasi tekanan (Oguntibeju & Oguntibeju, 2012).

 

(Versi lengkap Policy Brief ini dapat diperoleh melalui tautan ini: http://arc-atmajaya.org/seri-policy-brief-2-tahun-2017/)